Suara Kertas

Soal penataan dokumen dan buku-buku, saya tergolong orang yang rajin dengan predikat kadang-kadang. Tetapi ketika rajinnya muncul, akan begitu khusuk merapikan apa saja yang bisa dirapikan selama sesuatu itu tampak tanpa melibatkan indera keenam. Buku-buku yang tersimpan dengan urutan beda tinggi pasti saya rombak hingga membentuk susunan seragam, semacam barisan pasukan anti huru-hara yang melakukan simulasi.

Di tengah merapikan dokumen dan buku-buku, saya menemukan notebook ukuran sedang bertuliskan merk obat dengan tinta hijau kusam. Saya membuka buku tersebut memastikan apakah perlu dibuang atau dipertahankan. Saat membuka halaman pertama, saya menemukan coretan tak beraturan yang dibubuhi tinta hitam dan tinta biru–saya pikir tidak perlu disimpan. Toh, saya punya buku tulis yang lebih bagus, pikir saya. Sebelum memutuskan dibuang, saya membuka lembaran kedua dengan tangan kanan, sontak tangan dan mata saya terhenti. Saya menemukan catatan istri saya. “ALASTAIR.” Begitu judul tulisannya.

Saya merapikan beberapa penekanan kalimat tanpa mengubah keaslian tulisan istri saya, dan ini dia catatan itu:

 Anak Cerdas

Ia berasal dari kesadaran, kesungguhan, kesengajaan, rasa sayang dan saling memiliki antara aku dan papanya.  Ada aku dan papanya di dalam dirinya, sehingga tak ada alasan untuk tidak menjaganya dengan kasih saya terbaik yang mampu aku persembahkan. Sebab menjaganya berarti menjaga cintaku dan papanya. Aku merenungi perjalananku sebagai ibu sekaligus istri.

Aku bahagia. Tetapi aku tetap harus merenung.

Tak ada alasan untuk bisa menyakitinya, karena menyakitinya akan sama artinya dengan merusak kekuatan cintaku dengan papanya. Alastair, pelindung masyarakat. Dengan arti namanya saja aku senang, aku bangga.

Aku patut berterimakasih kepada orang-orang yang telah menghasilkan tulisan-tulisan parenting, karena tugas yang satu ini tidak ada sekolahnya. Sering aku mendengar pernyataan seperti itu, kenyataannya memang begitu. Aku berterimakasih, tak terkecuali kepada orang-orang yang menulis tentang larangan menyekolahkan anak terlalu dini, dengan alasan khawatir anak akan jenuh dengan pendidikan dan enggan belajar ketika dia besar. Tulisan itu membuatku belajar untuk mempertanggungjawabkan, bukan menyesali keputusan—atas aku yang menyekolahkan Alastair di salah satu playgroup sedari usianya dua tahun persis.

Aku bahagia. Tetapi aku tetap harus merenung.

Dengan tulisan-tulisan larangan itu aku akan senantiasa waspada terhadap setiap detail resiko buruk yang mengancamnya. Aku akan belajar menjaganya sepanjang usiaku. Aku menerima Alastair dengan segala kelebihannya. Sedangkan kekuranganyya, tidak akan sekalipun mengikis rasa banggaku akan dirinya—dia yang menjadi bagian penting dalam hidupku yang lebih bermakna.

Alastair belum bisa banyak biacara di umur dua tahunnya, namun itu tidak akan menggoyahkan rasa percaya diriku untuk perkembangannya, tidak ada prasangka buruk apapun terhadap tumbuh kembangnya. Aku ibunya, aku memahaminya lebih dari nalar, dan aku punya keyakinan besar yang tak ada keraguan di dalamnya bahwa dia akan baik-baik saja.

“Ada banyak tempat terapi yang baik di kota ini,“ Ucapku dalam hati dengan santai, terkadang aku tersenyum ke arah Alastair bersamaan dengan kalimat itu. Aku kerap melontarkan kalimat tersebut ketika ada ucapan resah dari anggota keluarga lain yang sampai di telingaku. Aku ibunya, aku memahaminya lebih dari nalar, dia selalu baik-baik saja.

Aku bahagia. Tetapi aku tetap harus merenung.

Tuhan sudah menitipkan Alastair yang sempurna dan mempercayakannya padaku dan papanya untuk bersama menembus waktu hingga nanti.  Alastair dihadikrna dengan paras yang selalu bisa membuatku rindu meski hampir sepanjang waktu aku bersamanya. Dengan tingkah yang membuatku haru dan selalu semangat mengucapkan syukur. Benar. Tak ada nikmat yang dapat aku dustakan, tidak ada. Lagi. Tak ada alasan untuk berburuk sangka kepada Tuhan atas tumbuh kembang Alastair, lewat tangan kasih sayangku lewat keringat cinta lahir batinku.

Aku tidak goyah dengan kecemasan orang lain yang ditujukan pada Alastair. Karena hanya aku yang mendapat nikmat pelukan erat darinya saat aku bisa menciptakan tawa buat Alastair, bukan orang lain. Cuma aku yang merasakan bangga atas keberhasilannya mengucap satu  kata baru dalam hari cerianya, bukan orang lain. Hanya aku yang mendapat kecupan dan pelukan papanya saat dia berhasil membuat kepintaran baru yang merupakan hasil belajar bersamaku di setiap harinya, bukan orang lain. Aku ibunya, aku memahaminya lebih dari nalar, dia anak yang baik.

Aku juga berterimakasih atas adanya larangan memperkenalkan gadget pada anak. Karena dengan banyaknya artikel tentang itu yang menampilkan dampak buruknya, aku menjadi lebih-extra-berhati-hati saat Alastair yang sudah terlanjur kenal gadget—bermain game, menonton acara bermain, menonton lagu-lagu di youtube—sedari dia bayi. Aku tidak akan membiarkan diriku bersantai-santai karena dia asik dengan gadgetnya. Aku menghindari Alastair asik sendiri dengan cara selalu siaga menyambut tatapan penuh artinya saat ada adegan peek a boo yang dengan kode itu, mungkin dia sedang berusaha berkata-kata, “ini lucu banget, Ma!” atau “ Mama lihat kan, ini bagus!”

Aku harus mau meluangkan waktu untuk menonton dengan penuh konsentrasi, dengan seluruh hati bukan setengah-bersamanya, agar aku  bisa ikut tertawa terbahak saat ada kelucuan yang dia lihat. Aku tahu, dia menyukaiku lebih dan lebih saat mengetahui  aku juga menyukai apa yang dia sukai, satu selera itu asik, kurang lebih begitu. Biarlah kami menjadi bagian tak terpisahkan, yang tumbuh menyukai apa yang satu sama lain sukai.

Kupikir, aku tidak patut menyalahkan teknologi, aku hanya harus lebih aktif berinteraksi-bukan terjebak dalam leyeh-leyeh saat dia memutar alphabeth song di youtube. Bahkan ada rasa terimakasih saat alastair sudah mampu meghapal A sampai Z, bahkan dengan urutan random yang kutunjukkan padanya, dia tetap bisa menyebut abjad-abjad itu dengan baik. Begitu juga perhitungan satu sampai dengan sepuluh dan finger family dan lainnya. Aku juga suka melayaninya membacakan buku dongeng Little Miss Sunshine meski sampai mulut berbusa karena dia tak bosan-bosan meminta didengarkan dongeng itu.

Mungkin bagi orang lain itu biasa, namun buatku—orang tua dengan kemampuan seadanya ini—semua itu sangat luar biasa. Dia menguasai apa yang kusebutkan tadi di usia dua tahunnya. “Itu pencapaian besar dalam mengasuhmu selama ini, Nak,” kataku padanya, meski dia tidak tahu apa maksud perkataanku. Saat dia sangat aktif di kelas, bermain dengan huruf dan angka, aku berulang-ulang mengatakan kalimat itu dalam hati.

Aku hanya bisa mengucap syukur dengan hati yang dalam saat gurunya mengatakan, “ Al pinter banget sih.“ Namun aku tidak akan dengan bangga menunjukkan kepintarannya di depan orang. Aku hanya menuliskan ini di buku catatanku, karena aku ingin mengatakan ini pada dunia yang sunyi pada dunia diam yang tidak mudah menghakimi. Aku akui, aku terlalu takut akan tanggapan-tanggapan yang akhirnya berujung pada membanding-bandingkan anak masing-masing. Itu sangat kuhindari. Semua anak adalah terbaik bagi orang tuanya masing-masing, begitu juga orang tua—adalah terbaik bagi anaknya masing-masing.