Surga di Telapak Kaki Ibu dan Bapak

Katanya, anak yang baik adalah anak yang mengangkat (derajat) orang tuanya. Mari kita menggendong orang tua! 😁

Menurut saya surga itu ada di Ibu dan Bapak. Kita tidak akan memiliki seorang Ibu jika Bapak tidak berjuang merayu Ibu hingga menikahlah keduanya. Kita tidak akan memiliki Ibu jika darah daging Bapak tidak diturunkannya. Ibu itu surga, Bapak itu jalan dan pintu menuju surga. Mana bisa kita bisa tiba di surga jika tidak ada jalan dan pintunya?

Sebelum saya lanjut menulis, daripada para pembaca yang budiman berkutat dengan pertanyaannya, sebaiknya saya jawab dulu pertanyaan para pembaca yang tidak terucap itu. Kok mau sih ibu-bapaknya difoto seperti itu? Kok mau-maunya sih digendong begitu? Kok kuat sih?

Jawabannya sederhananya hanya 2:
1. Untuk meyakinkan orang tua agar mau digendong dan mau difoto sambil digendong dengan hati riang gembira, itu butuh skill komunikasi yang diasah sepanjang hidup dengan cinta dan kasih sayang
2. Menggendong orang tua seberat itu tanpa merasa berat, juga butuh skill, dan hanya mampu dilakukan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Ahay!

Setelah mengikuti agenda ‘Indonesia OSH Leader Summit 2018″ di Hotel Anvaya Bali pada tanggal 24-25 Oktober kemarin, Jum’at 26 Oktober saya usahakan ke Bima dua hari, demi bertemu memeluk Ibu sama Bapak. Kangen euy!

Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, pulang selalu menjadi kejutan. Saya tidak memberitahu orang tua, tiba-tiba nongol saja di rumah. Bahkan waktu mudik lebaran dengan anak istri pun, kami tiba-tiba muncul di depan rumah. Apa orang tuanya gak teriak mau copot jantung? Hahaha.

Ibu kan ada kios. Pulang kemarin saya datang berpura-pura jadi pembeli, jaket dan helm dan wajah yang agak ditutup tak saya lepas. Begitu beliau nanya mau beli apa, saya buka helmnya, dan… Eaaaaaa Ibu menangis. Lalu saya diamkan dengan pelukan dan kecupan. Muah!

Tak lama saya ke tempat Bapak. Bapak sedang duduk di motor, menunggu seseorang. Dengan gaya rem mendadak tapi gak sampai ban berdecit, saya berhenti persis di samping bapak sambil berteriak, “Assalamualaikuum…” Bapak kaget dan hampir terjatuh dari duduknya. Lalu beliau terus bicara kok gak dikasihtahu, kok diam-diam bae, kok gitu kok gini, diulang-ulang. Bapak agak susah diam meski sudah dipeluk. Mungkin karena gak dikecup muah seperti ibu. Hahaha.

Satu malam tidur di tempat Ibu.
Satu malam tidur di tempat Bapak.
Di tempat Ibu dulu, baru di tempat Bapak.
Semoga adil adanya.

Alhamdulillah, diberi rezeki dan kesempatan untuk menengok orang tua. Dan hari ini harus mengucapkan sampai jumpa kembali, melanjutkan perputaran dunia seperti biasanya.

Mari menyayangi orang tua mumpung beliau-beliau hidup, siapa dan apapun beliau-beliau adanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, sebab hidup di dunia tiada terjadi dua kali.