Suzuki, Berinovasi dan Menginspirasi

Tak terasa sepuluh tahun sudah berlalu, saya mengambil alih tanggungjawab mengurusi adik saya—Iwan—yang terpisah dengan ibu semenjak usianya sekira enam bulan. Tahun 2006 silam dia lulus SMP, saya minta izin sama bapak untuk menyekolahkannya di STM di kota, berharap lulus sekolah dia bisa mencari kerja sebagai montir. Di tengah jalan saya berubah pikiran, memutuskan untuk membawanya ke Semarang, melanjutkan kuliah di sana. Terjadilah. Tahun 2015 dia wisuda, setelah itu saya ajak ikut tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berasa punya anak yang sudah dewasa, terkadang saya berpikir bahwa saya ini sudah tidak teramat muda lagi. Haha!

Setelah hampir setahun kerja di bidang yang bukan keahliannya, bulan September 2016 Iwan akhirnya mendapat kesempatan berkarir di bidangnya di perusahaan engineering services yang berkantor pusat di daerah TB Simatupang, Jakarta Selatan. Dia ikut bergabung di proyek perluasan gardu induk PLN di Tenggarong, Kalimantan Timur. Karena lokasi kerjanya di pinggir kota Tenggarong dan tidak dijamah oleh angkutan umum, dia meminjam motor saya untuk sementara waktu sampai terkumpul uang untuk dia beli motor sendiri. Sebenarnya saya dan istri butuh motor itu—karena satu-satunya—tetapi berhubung saya tinggal di kota yang tidak sulit angkutan umumnya, tidak masalah berkorban (sekali lagi) untuk adik tersayang. Di kondisi ini, saya teramat lega karena rasa-rasanya tugas saya sebagai kakak sudah hampir tuntas untuk membuat adik saya berdiri tegak di kakinya sendiri. Menjelang dia berangkat ke Tenggarong saya memberinya pelatihan khusus bagaimana harus berorganisasi dan bagaimana bisa bertahan di lingkungan proyek yang tentu asing baginya. Ya, saya setua itu!

Selama motor saya dibawa, saya sering melihat-lihat iklan sepeda motor, dari yang bekas yang baru yang umur tua yang umur muda yang tampak cadas yang tampak manis sampai yang surat-suratnya tidak beres. Kalau ada yang menarik perhatian, saya kirim gambarnya ke Iwan, dan sifat aslinya keluar: sulit memutuskan sesuatu pilihan. Dasar.

“Lupakan soal harga. Lupakan bagaimana cara membelinya. Sebenarnya kamu pengin banget motor apa?” tanya saya ke Iwan waktu dia pulang ke Balikpapan bulan Oktober kemarin. “Kamu harus memiliki barang yang kamu suka, yang kamu banggai.”

“Kalau ditanya penginnya sih, motor sport yang laki gitu,” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala. “Tapi gimana ya?”

Gantian saya yang garuk-garuk kepala. Selain sulit menentukan pilihan, Iwan juga punya selera yang pengin memiliki sesuatu barang yang agak berbeda dengan orang lain. Tidak mau yang terlalu umum dimiliki orang. Saya ingat dulu dia tidak mau pakai motor bapak karena terlalu banyak yang pakai motor sejenis. “Ngapain pake motor ojek begitu,” katanya tanpa merasa berdosa. Pengin saya jambak sampai tobat nasuha! Hahaha.

Hidup ini memang tidak terlepas dari hukum tarik menarik, dan itu sudah hukum mutlak: setiap apa-apa yang kita pikirkan secara fokus, hal tersebut akan mendatangi kita. Tidak ada keraguan pada saya untuk bilang setuju terhadap hukum tersebut. Tanggal 2 November kemarin saya melihat kicauan teman-teman yang datang ke acara otomotif bergengsi, Indonesia Motorcycle Show (IMOS 2016), dengan foto-foto riuh ramai yang mengundang selera. Sampai saya menghubungi salah satu teman blogger yang hadir untuk menceritakan tentang keseruan acara tersebut dan meminta difotokan—dikirim ke saya—wujud asli dari motor-motor yang bakal jadi produk baru.

Yang paling menarik perhatian saya adalah tentang gebrakan World Premier Suzuki Indonesia oleh team PT. Suzuki Indomobil Sales (PT. SIS), yang meluncurkan produk barunya. Acara yang diadakan di Jakarta Convention Centre tersebut digelar sampai 6 November 2016 lalu.

suzuki1

Abaikan si mbak yang sedang benerin rambutnya. 🙂

Produk baru yang diluncurkan tersebut adalah Suzuki GSX-R 150 (racing) dan GSX-S 150 (street sport), yang merupakan jawaban dari penantian panjang para pecinta motor sport, khususnya pecinta produk Suzuki. Sudah lebih dari 30 tahun Suzuki sukses menciptakan motor sports berperforma tinggi, dengan Inovasi tiada henti, terus mengembangkan produk baru dengan teknologi dan engineering yang terus menyesuaikan kebutuhan dan zaman untuk menjangkau lebih luas lagi lapisan konsumen tentunya. Salah satu strategi besarnya adalah Suzuki fokus pada konsep pengembangan sepeda motor backbone sport mulai dari kapasitas 150cc.

Suzuki GSX-R 150 berpenampilan racing yang bikin saya ngiler itu, mengusung mesin 150cc DOHC berteknologi fuel injection yang pastinya sanggup menghasilkan performa tinggi. Singkatnya, bergaya dan berdaya.

Dilihat dari spesifikasinya di www.suzukigsxrs150.com, GSX-R ini ringan dan padat, mengendarainya pasti sangat menyenangkan. Ditambah lagi dengan perlengkapan terkini seperti LED Headlight, LCD Speedometer, dan Easy Start System yang digunakan, makin menyenangkan. Selain itu, yang menjadi gebrakan dari Suzuki adalah penggunaan Key-less Ignition sebagai terobosan teknologi pertama dalam sejarah yang digunakan pada sepeda motor yang diproduksi di Indonesia.

suzuki2

suzuki

Kenapa saya turut bangga dengan produk ini meski belum memilikinya, bahwasanya Indonesia dipilih sebagai basis produksi Suzuki GSX-R 150 dan GSX-S 150, yang besar kemungkinannya juga akan di ekspor ke negara–negara lain. Kan bangga gitu, motornya dipakai di negara lain tetapi produksinya berangkat dari sini—dari pabriknya yang berlokasi di kawasan Jakarta Timur.

Di ajang IMOS 2016 tersebut, Suzuki memberikan kesempatan perdana kepada publik untuk menyaksikan gebrakan produk barunya, sebelum resmi diluncurkan. Peluncuran resmi sekaligus penjualannya akan dilakukan pada awal 2017 nanti. Kabar baiknya, GSX-R 150 maupun GSX-S 150 sudah bisa dibooking www.suzukigsxrs150.com dengan mengisi form pre-launch indent yang tersedia. Kemudian melakukan booking fee sebesar Rp. 500.000 ke pihak dealer yang menghubungi setelah data terisi diterima.

“Kamu mau kan jadi pemilik pertama motor bergaya dan berdaya ini?” tunjuk muka di depan cermin, lalu Iwan terlupakan. Hahahaha!