Tag Archives: Kids

Baby Traveler Seakan-akan

Saya tidak mau bilang kalau Alastair itu masuk golongan Baby Traveler, karena saya bukanlah traveler. Istri juga bukanlah traveler meski dulu dia tukang jalan. Belakangan kami tidak terlalu banyak jalan-jalan. Kalau nanti, bisalah lebih sering lagi. Kami hanyalah tukang putar-keliling dalam kota yang tingkat keseringannya per-minggu melebihi jumlah film Indonesia yang diperankan oleh Reza Rahadian. Continue reading

Semau Gue

Kalau ada laki-laki yang bilang mengurus anak itu gampang apalagi berani mengatakan bahwa perempuan sekaligus ibu banyak drama dalam mendampingi anak, berarti laki-laki macam begitu pantas disunat tiga kali. Sunat pertama secara prosedural lewat mantri/dokter, sunat kedua pakai kapak, sunat ketiga pakai sembilu. Tidak gampang bukan berarti tidak menyenangkan, konteksnya bukan itu.  Continue reading

Bahagia Dengan Cara Hidup Anak Kecil

Dua orang remaja sekira umur tiga belas tahun melaju di atas roda dua melintasi jalur melingkar jalan gunung malang, Balikpapan. Gaya miringnya melewati tikungan tajam seolah-olah mereka jagoan jalanan yang sudah hafal mati dengan teknik berkendara lincah dan berkemampuan menghitung celah dan pergerakan kendaraan lain yang luar biasa. Saat mereka berada sekira seratus meter sebelum pintu gerbang Yova Supermarket, sebuah sepeda motor keluar dari tempat perbelanjaan tersebut tanpa ragu karena melihat kendaraan di kiri dan kanan masih cukup jauh. Saya yang membuntuti dua anak remaja tadi, mengira mereka akan mengurangi kecepatan untuk memberi kesempatan sampai motor yang keluar tadi benar-benar selesai memotong jalan. Dugaan saya meleset, tak sedikitpun mereka mengurangi kecepatan–entah karena tiba-tiba sembelit atau karena tangan kanannya lengket dengan gas sekaligus kaku tak bisa bergerak lagi akibat kebanyakan megang tissue magic–akhirnya dia menabrak ban depan motor yang sedang keluar, hingga motor mereka terbanting hebat dan mereka berdua terlempar dan terseret bersama percikan api yang dihasilkan gesekan besi motor dan aspal. Segera mereka berlari ke pinggir jalan, nampaknya takut terlindas kendaraan lain, air mukanya begitu kepanikan hingga lupa dengan kehebatannya yang sok itu. “Kasihan orang tuanya,” kata istri saya dari bangku depan kiri tanpa menghadap ke arah saya. Continue reading

Suara Kertas

Soal penataan dokumen dan buku-buku, saya tergolong orang yang rajin dengan predikat kadang-kadang. Tetapi ketika rajinnya muncul, akan begitu khusuk merapikan apa saja yang bisa dirapikan selama sesuatu itu tampak tanpa melibatkan indera keenam. Buku-buku yang tersimpan dengan urutan beda tinggi pasti saya rombak hingga membentuk susunan seragam, semacam barisan pasukan anti huru-hara yang melakukan simulasi.

Di tengah merapikan dokumen dan buku-buku, saya menemukan notebook ukuran sedang bertuliskan merk obat dengan tinta hijau kusam. Saya membuka buku tersebut memastikan apakah perlu dibuang atau dipertahankan. Saat membuka halaman pertama, saya menemukan coretan tak beraturan yang dibubuhi tinta hitam dan tinta biru–saya pikir tidak perlu disimpan. Toh, saya punya buku tulis yang lebih bagus, pikir saya. Sebelum memutuskan dibuang, saya membuka lembaran kedua dengan tangan kanan, sontak tangan dan mata saya terhenti. Saya menemukan catatan istri saya. “ALASTAIR.” Begitu judul tulisannya. Continue reading

Keajaiban Kasih Sayang Ibu dan Anak

img_20160710_083641_hdr_1468235207711

Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menerangi dunia. Lagu berjudul Kasih Ibu karya SM Muchtar tersebut masih sesekali saya dengar hingga kini. Dulu, waktu hanya sebatas sebagai anak, bagi saya lagu tersebut semacam ucapan terimakasih saja—tanpa getaran makna. Sangat berbeda ketika saya mendengarnya sekarang, setelah mejadi bapak yang setiap hari melihat tumbuh kembang anak oleh tangan istri—menangis hati dan mata ini. Ibu mengasihi anaknya sepanjang malam, sepanjang hari, sepanjang napasnya, sepanjang sadar dan tidak sadarnya, sepanjang kesabarannya, sepanjang dunianya. Itulah kenapa  kata ‘sepanjang masa’ paling tepat mewakili sepanjangan-sepanjangan lainnya. Continue reading

My First Book – By Alastair

Saya baru benar-benar menyadari, kalau Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan guru kepada anak murid–sesungguhnya bukan bertujuan mengurangi jatah mainnya anak di luar jam sekolah, melainkan bertujuan untuk melibatkan orang tua secara aktif terhadap proses pendidikan anaknya sekaligus untuk mendekatkan anak dan orang tua dalam proses belajar dan bermain bersama, selalu.

Minggu lalu, guru kelompok bermainnya Alastair memberikan PR untuk membuat foto bercerita dengan tema My First Book. Alastair harus bercerita tentang dirinya, kesehariannya, dan orang tuanya. Bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu membuat cerita? Tentu, itu PR yang ditujukan untuk orang tuanya–saya dan istri–supaya menulis dari sudut pandang Alastair. Ini yang membuat saya sadar tentang pernyataan saya di awal tentang PR.

Saya mengambil beberapa foto yang saya sisipkan di paragaraf terkait–tetapi di postingan blog ini, saya menyatukan semua foto yang saya gunakan di buku kecil yang sudah dijilid dan dikumpulkan ke gurunya Alastair itu, supaya tidak kepanjangan. Berikut sepenggal kisahnya Alastair: Continue reading

Menyapih Pakai Hati Dengan Hati-Hati

ZA

Anak adalah suara, warna, dan rasa yang lebih kompleks dari sekadar apa yang bisa dikenali oleh panca indera. Ia mampu membuat orang tuanya: senang sekaligus sedih, kuat sekaligus lemah, berwibawa sekaligus berantakan, sabar sekaligus emosian, kenyang sekaligus lapar, segar sekaligus ngantuk, cakap sekaligus jelek, rajin sekaligus malas. Anak jualah yang mengajarkan gue arti menyayangi orang tua dengan tulus, dan mengingatkan gue untuk terus meminta maaf terhadap orang tua yang perjuangannya membesarkan tak pernah bisa dibalas. Anak itu sungguh luar biasa. Bahkan menghentikan kebiasaan bujang gue tidur telanjang hanya berbalut selimut, karena gue khawatir anak mengira ada batang mainan yang bisa ditarik dan dipindah posisi-kan. Horor! Continue reading

Dokter Yang Baik Buat Anak?

Al ZH

Bagi seorang saya, pertanyaan tentang dokter yang baik seperti apa tak beda halnya dengan tempat nongkrong yang asik di mana: soal kebutuhan dan kondisi. Setelah punya anak, saya dan istri sering mendapat pertanyaan tersebut, juga kadang mendapat broadcast message dari orang tua baru yang butuh saran tentang dokter anak.

Semua dokter anak baik, yang gak baik itu penculik anak. Tapi dokter terbaik dari yang terbaik untuk anak itu adalah orang tua–dan, ini tidak mudah memang. Continue reading