Tag Archives: Minerba

Revolusi Mental Pertambangan Indonesia

gambar dari sini

Banyak saya jumpai di berbagai tempat kerja; orang yang nurut, patuh, rajin, justru semakin diperas tenaga dan pikirannya dalam konteks cenderung direpotkan. Sementara yang punya perilaku kerja sebaliknya, lebih banyak santainya karena dibungkus dengan kalimat “capek ngurusin orang yang kayak gitu, biarin saja.” Saya yakin orang-orang yang punya pernyataan demikian bertolak belakang dengan hatinya, pasti pengin mengubah etos kerja timnya yang kurang berprestasi, pasti pengin melakukan sesuatu tetapi bingung mengambil sikap yang tepat. Ini masalah mental. Pembiaran akan hal seperti itu memicu penularan penyakit malas kerja, “Ah, ngapain terlalu rajin, si itu aja kerja males-malesan tetap digaji sama.” Lalu harapan kemajuan apa yang ingin dicapai dengan pembiaran mental demikian? Continue reading

Angin Segar Bagi Dunia Pertambangan

alat-berat-tambang

Pemandangan alat berat tambang parkir nganggur berjejer panjang lebar begini mudah dijumpai di banyak tempat , terutama di seputaran Kalimantan pada akhir 2014 hingga awal 2016. Kondisi tersebut merupakan dampak dari krisis berkepanjangan–harga komoditas batu-bara, meniral, minyak & gas yang merosot sesuka hati. Namun, beberapa bulan terakhir ini muncul angin segar yang mengantarkan harga komoditas merangkak naik meskipun belum mencapai harga semewah tahun 2011-2012. Continue reading

ESDM: Harus Konsisten, Bukan ‘Seharusnya’ Konsisten

32Tambang

gambar dari: http://sinarharapan.co/

Pada 28 Januari 2016 lalu, izin ekspor konsentrat PT. Freeport Indonesia (PTFI) kadaluarsa, setelah ekspor bahan mentah bisa mereka jalankan selama 6 bulan terakhir dengan syarat khusus. Nasib PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) sepertinya kurang lebih sama saja. Bahkan operasional PTNNT sekarang jauh lebih woles, kabarnya.

Baru-baru ini PTFI mengirimkan surat permohonan perpanjangan izin ekspor kepada pemerintah, yang kemudian pemerintah mengirim balik surat respon dengan syarat-syarat khusus yang lebih diperketat lagi. Salah dua dari syarat yang harus dipenuhi oleh PTFI tersebut adalah:

– Membayar bea keluar (BK) sebesar 5%, dan

– Men-deposit-kan uang senilai US$ 530 juta. Continue reading

Menatap Jauh Masa Depan

smelter
sumber gambar: di sini

Sejauh ini saya—yang tampang menawan ini—masih melihat sisi kegigihan pemerintah dalam meneruskan semangat pemurnian mineral mentah dalam negeri, mengembangkan strategi ekonomi untuk mendapatkan sebanyak mungkin investor baru, dan sistem peningkatan sumber daya manusia. Meskipun terkadang pemerintah juga menunjukkan keraguan di sisi tertentu dalam menyikapi banyaknya isu pertambangan yang harus ditangani, termasuk skala prioritas dalam membereskan sekelumit masalah di negeri ini. Manusiawi lah, yang penting tidak angkat tangan dan angkat mulut dengan kata menyerah. Continue reading

Pemurnian Harga Diri Bangsa

biggest-gold-mining-companies

“Jika engkau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tapi jika engkau ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama. – Ratan Tata.”

Ya. Sektor pertambangan Indonesia terus menuai tantangan demi tantangan atas mimpi besarnya menjadikan negeri ini kaya sebagaimana mestinya. Masalah yang tak kunjung selesai adalah pemurnian bahan mentah dilakukan dalam negeri dengan pengharusan adanya smelter—pemerintah lewat aturan mineral dan batu-bara telah menegaskan proses hulu hingga hilir, namun tak sedikit pelaku usaha pertambangan yang masih saja mencoba mencari celah dengan berbagai alasan. Alasan-alasan yang muncul dari pengusaha tersebut, kalau tidak dicermati dengan teliti dari sudut pandang aturan dan kesejahteraan jangka panjang, memang logis, tetapi kalau dikembalikan pada aturan dan mimpi bangsa, sungguh tampak sebagai pembelaan diri belaka. Continue reading

Komitmen Adalah Kunci!

BIG_DIGGER_WIREFRAME

Memantau perkembangan tentang sektor pertambangan, membuat saya semakin gemas. Tepatnya, melotot dengan angka-angka uang yang terkumpul dan seharusnya terkumpul dari perusahaan-perusahaan pemegang surat izin usaha pertambambangan yang bisa dikatakan ‘nakal’–sekitar 4.654 pemegang izin usaha pertambangan, tidak memenuhi ketentuan pemerintah yang menjadi kewajibannya. Dalam hal ini, saya sampaikan bahwa ketentuan-ketentuan tersebut merupakan bagian dari apa yang diatur di Undang-Undang Minerba.

Setelah KPK dilibatkan dalam pemaksimalan transparansi semua pihak di sektor tambang, dana royalti dan iuran tetap dari berbagai perusahaan tambang tersebut sudah terkumpul lebih dari dua triliun rupiah. Itu awal tahun, sampai bulan ini pastinya bertambah. banyak. Perusahaan tambang yang belum bayar tunggakannya masih banyak, untuk daerah kalimantan saja, masih ada lebih dari dua triliun rupiah. Bagaimana dengan sumatera, jawa, sulawesi, irian, sumbawa, dan lain-lain? Pastinya masih banyak.  Continue reading

Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

“Alam semesta adalah gudang kekayaan yang tak ada habisnya. Bahan asal merupakan sesuatu yang hidup dengan energi kreatif dan secara konstan ia menghasilkan benda-benda lebih banyak lagi. Bila persediaan bahan bangunan habis, persediaan lebih banyak akan dihasilkan lagi. Bila persediaan tanah habis hingga bahan makanan dan pakaian tak bisa ditumbuhkan lagi di atasnya, ia akan diperbarui atau akan ada tanah baru lagi diciptakan. Bila semua emas dan perak telah tergali dari perut bumi, dan peradaban manusia masih membutuhkan emas dan perak, maka akan diciptakan lebih banyak lagi emas dan perak dari bahan asal tersebut. Substansi tak berbentuk ini merespons kebutuhan manusia; ia tidak akan membiarkan manusia hidup tanpa benda-benda yang layak.” – Wallace D. Wattles, dalam buku-nya Science of Getting Rich, Bab ‘Apakah Kesempatan itu Dimonopoli?’

Continue reading

Ge(mer)lapnya Dunia Pertambangan Indonesia

“Saya tuh kaget, Mas, tahu kondisi begitu banyaknya perusahaan pertambangan di Indonesia yang tidak bertanggungjawab. Tadi sebelum berangkat ke sini, saya sempat baca koran yang isinya; dari tiga ribu delapan ratusan izin usaha pertambangan yang dikeluarkan di daerah Kalimantan, hanya dua ratus sepuluh pemegang IUP yang membayar jaminan raklamasi. Sisanya, yang tiga ribu enam ratusan itu, ya entah ke mana. Ngeri, Mas.” Ujar Manajer (head office) saya ketika ketemu dan mengobrol dengan beliau akhir November 2014 lalu, di Palembang.

Saya pun ikutan syok mendengar itu. Betapa banyaknya pembiaran yang selama ini terjadi. “Koran apa, Pak? Edisi hari ini? Saya penasaran pengin membaca keseluruhan isinya.” Tanya saya penuh semangat, sembari iseng keingetan kalau ketiak belum tersentuh deodoran. Continue reading

Lingkungan Indonesia, Tanggungjawab Kita

“Saya menerima jasa pembuatan AMDAL untuk perusahaan, jika ada yang membutuhkan silahkan untuk menghubungi saya, harga bisa diatur.” Ujar salah seorang pengajar, waktu gue mengikuti pelatihan dan sertifikasi Ahli K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Seketika gue meletakkan pulpen yang ujung kepalanya sempat hinggap di antara gigi atas dan gigi bawah–melongo!

Dia bukanlah seorang pengusaha, yang memiliki perusahaan jasa konsultan untuk menangani masalah pengelolaan lingkungan secara profesional dan lain sebagainya. Bukan juga bukan pegawai perusahaan konsultan. Dia seorang pengajar paruh waktu, yang mengambil kerjaan-kerjaan apa saja yang di bisa secara paruh waktu, freelance, membantu perusahaan-perusahaan yang membutuhkan. Tepatnya, perusahaan yang membutuhkan cara cepat, walau dengan proses tak tepat. Heuh! Continue reading

Mengeruk, Mengolah, dan Memurnikan Masa Depan

           “Saatnya menjadi Tuan di rumah sendiri.” Kalimat yang gue rasa perlu terus dikampanye-galak-kan saat ini, mengingat dunia industri dan pengusaha yang masih saja mencari celah atas Hukum Negara yang dianggap masih lemah.  Padahal anggapan-anggapan seperti itu-lah yang justru membuat Hukum menjadi terkesan lemah, bukan hukum yang memang lemah.

        Mengobrol dengan belasan temen lama, yang dulu sama-sama bekerja di lokasi Newmont Nusa Tenggara, membuka foto-foto lama waktu bekerja di tambang Nikel, Soroako Sulawesi Selatan, tersentuh oleh berita-berita, membuat gue pengen ikut berbicara atas pemberitaan ketegangan antara Pemerintah dan penggiat usaha pertambangan belakangan ini. Lebih tepatnya ketegangan atas ditegaskannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. *lurusin punggung, kretekin jari jemari* Continue reading