Tag Archives: Ojek Online

Cerita Ojek Online, GoCar: 101 Jalur Rezeki Ala Pak Hamdani Kadafi

Rezeki sudah ada yang mengatur, kelancaran urusan hidup sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana usaha kita menemukan jalur dan lelancaran dan keteraturan itu, tanpa dicemari oleh nafsu keserakahan gelap mata. Kurang lebih begitulah pelajaran singkat dari Pak Hamdani, sang driver Go-Car siang ini.

“Mas tunggu sebentar ya, saya tidak terlalu jauh dari situ,” ujarnya, lantas menutup telepon, setelah saya melakukan order Go-Car untuk ke Bandara Balikpapan.

Saya menunggu agak lama, beliau tak kunjung muncul. Saya yang tadinya tidak ingin makan, akhirnya makan siang sampai kenyang, namum beliau tak kunjung datang pula. Saya telepon tidak ada respon. Saya keluar depan rumah, sudah pakai sepatu, menenteng dua tas sekaligus. Baru beliau muncul, dan… telolet! Beliau menyalakan klakson saat melihat pria berbaju kuning dengan tentengan tasnya di pinggir jalan komplek, yaitu ES A SA YE A YA, SAYA!

“Maaf, Mas, jadi terlambat. Pas sudah mau masuk jalan sini, saya mendadak kepikiran apakah kompor sudah saya matikan atau belum,” katanya pelan. “Namanya firasat, mending saya putar balik dan memastikan. Apalagi musim panas begini, lebih rawan lagi terjadi kebakaran. Alhamdulillah kompor sudah saya matikan. Tapi paling tidak pikiran saya tenang dan enak ke mana-mana. Tadi saya mau telepon ngabarin Mas, tapi saya urungkan biar cepat-cepat saja.”

Saya mengarahkan wajah ke samping, ke arahnya, mengembangkan sedikit senyum, dengan tatapan agak centil penuh kalimat tidak apa-apa. Woles.” Tenang saja, Pak, saya senang bapak memastikan rumah bapak aman. Apa yang bapak lakukan sangat lah benar. Toh, kita masih punya banyak waktu untuk ke Bandara,” jawab saya menenangkan. Padahal tadinya saya sempat risau, karena waktu yang tidak terlalu longgar sebenarnya.

Awalnya saya meminta untuk keluar lewat jalan potong, di Hotel Sagita, namun beliau minta izin supaya tidak lewat situ. “Sedang ada perbaikan jalan di situ,” katanya. “Saya khawatir macet.”

Beliau menjelaskan beberapa opsi yang lebih aman. Saya pasrahkan saja pada pilihannya, karena orang baik yang begitu peduli sama keselamatan rumahnya ini pasti punya feeling yang lebih mantap. Beliau memutar balik, untuk keluar ke jalur utama Gunung Sari, yang sebenarnya akan lebih jauh lagi. Tetapi saya harus menurut karena opsi itu jalurnya lebih lancar.

Alam semesta mendukung. Begitu keluar jalur utama, pas ada mobil Alphard TNI yang sedang dikawal oleh Pajero putih di depannya dan Innova hitam beserta ambulance TNI di belakangnya. Kami berada persis di belakang ambulance. Akhirnya jalan bebas hambatan sampai di Bandara, karena mobil-mobil TNI yang menyalakan lampu hazard beramai-ramai tersebut beriringan ke arah bandara. Entah ke mana tujuan akhirnya, kami belok kanan ke Bandara, mobil TNI terus ke arah depan. Pak Hamdani tidak ikut menyalakan lampu hazard memanfaatkan situasi, hanya ikut saja di belakang, dan beruntungnya tak ada yang memotong dan ya tak ada hambatan. Inilah maksud dari kelancaran hidup itu memang ada yang mengatur, selama tidak dicemari dengan nafsu gelap mata.

Tiba di bandara saya minta izin untuk mengobrol sebentar, beliau tidak langsung pulang. Saya bertanya lebih detail soal dia kembali ke rumah memastikan kompor. Saya juga menanyakan apakah tidak ada orang di sana.

Singkat cerita hasil obrolan:

Tidak ada orang di rumah Pak Hamdani, anaknya yang baru lulus STM lagi ke suatu tempat yang tidak diceritakan. Istri bekerja di salah satu hotel. Jadi, beliau sendiri lah yang tadinya di rumah.

Di depan rumahnya ada warung klontong, Pak Hamdani sendiri lah yang menjaga warung itu. Bingung kan? Saya tadi juga bingung.

Pak Hamdani membuka dan menjaga warung klontong sambilan menjadi driver go-car. Bingung? Sudah, lanjut baca saja. Usai mengantar penumpang beliau akan kembali ke warungnya dan standby di sana.

“Tenang saja, selalu ada orang di sekitar warung, dan aman saja tanpa harus saya tutup,” ucapnya penuh percaya diri. “Saya biarkan warungnya terbuka.

Beliau menyediakan dua papan catur di samping warungnya, kebetulan tidak jauh dari situ juga ada pangkalan ojek konvensional. Orang-orang yang mampir main catur itulah yang menjaga warungnya ketika beliau narik. “untunya dua, Mas,” katanya. “Warung aman saya tinggal, dan mereka pasti membeli rokok dan kopi di warung saya.”

Wueee hebat bener!

Beliau dulu tulang ojek angkalan. Begitu gojek masuk, beliau memilih jati tulang ojek online. Atas kerja kerasnya, seiarang beliau punya mobil, makanya jadi driver Go-Car.

Bahkan sebagian rumahnya lagi dibongkar untuk usaha bengkel kecil-kecilan anaknya. “Anak saya itu pengin kerja di rumah saja,” ucapnya penuh antusias. “Yasudah, saya bongkar saja sebagian rumahnya.”

LUAR BIASA! *beri hormat, cekrek!*

Cerita Ojek Online, Gojek: Berguru Sama Pak Fa’at

Beliau adalah rider Gojek, usia 57 tahun, memiliki dua orang puteri. Puteri pertamanya lulusan Sastra Inggris UGM, puteri keduanya sedang kuliah semester 3 jurusan Hukum di Universitas Islam Indonesia (UII).

Awal mula kami mengobrol adalah ketika saya menggunakan jasanya dari KM 5 untuk menuju ke KM 14 Kaliurang, Yogyakarta, beliau bilang: “Kebetulan, Mas, rezeki. Mas mau ke UII, pas saya berniat mau menjemput anak saya di UII. Alhamdulillah ketemunya pas.”

Beliau bertanya apa sih bedanya jurusan Hukum Umum dengan Hukum Islam, beliau hanya pengin tahu lebih banyak tentang pendidikan anaknya. Saya menjawab ala kadarnya yang saya paham: mahasiswa/i Hukum Islam bakal menyandang gelar Sarjana Hukum Islam atau SHI, bukan SH saja seperti pada umumnya. Soal peluang kerja sesuai jurusan, ya, bisa menjadi hakim di Pengadilan Agama (PA), Panitera PA, Staf KUA, Pengacara di PA, Dosen Syari’ah, Peneliti di bidang sosial dan keperdataan Islam, SDM Departemen Agama, dan ini dan itu. Beliau semakin memperlambat laju motor karena kami sama-sama tidak terburu waktu. Santai.

Beliau tampak senang mendengar bahwa hukum yang dipelajari–selain ilmu dasar hukum umum–adalah hukum berdasarkan sudut pandang agama, yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dab Hadist. “Syukurlah, anak saya bisa belajar seimbang antara ilmu dunia dan akhirat,” katanya.

Waktu di tengah jalan Alastair minta berhenti karena kebelet pipis, kami pun mengobrol lebih banyak lagi, dan… cekrek!

Beliau pernah menjadi karyawan swasta, dua tahun-an lalu pensiun. Beliau pensiun saat puteri pertamanya baru lulus kuliah. Dua wisuda yang berbeda kepentingan.

Uang pensiun dan dana tabungan yang beliau kumpulin selama bekerja, ia pakai buat bangun kos-kosan. Untuk operasional hari-hari beliau memilih menjadi rider ojek online.

Jadi tukang ojek bukan terpaksa, bukan perkara semata tuntutan ekonomi. Beliau senang berinteraksi dengan banyak orang, memberi salam sapa senyum sesering mungkin sepanjang hari setiap hari, mengantarkan orang pada tujuannya dengan selamat, membantu orang tiba di tujuan tepat waktu, dan mengobrol banyak hal dengan banyak orang, semua itu sesuatu yang sangat bernilai baginya. Uang halal adalah bonusnya. Jiwa sehat karena memiliki banyak kegiatan meski sudah pensiun juga bonus plus plus.

Pak Fa’at senantiasa berusaha untuk tidak merepotkan anak-anaknya. Repot itu bagian orang tua. Nanti anak akan mendapatkan bagian itu saat menjadi orang tua. Sehingga, saat puteri pertamanya berhenti bekerja karena memutuskan untuk menikah waktu baru dua tahun lulus, beliau sangat ridha. Puterinya memutuskan ikut suaminya tinggal di Jakarta, ya tidak ada sedikitpun keberatan.

Tapi yang namanya rezeki ya… tak disangka nyana, tahun lalu beliau dan istrinya mendapat kejutan dari menantunya: berangkat umroh bareng-bareng.

Yang paling berkesan lagi dari Pak Fa’at adalah murah senyumnya. Saya melihat beliau selalu tersenyum. Lebih tepatnya, saat sedang tidak tersenyum pun, wajahnya tetap tampak tersenyum.

“Senyum dulu baru bahagia.
Bukan menunggu bahagia dulu baru senyum.”