Tag Archives: Smelter

Lingkaran Setan (Tambang) Mineral Logam

sumber gambar: www.esdm.go.id

Kehebohan isu tarik ulur kelonggaran sekaligus larangan mengekspor mineral mentah antara pemerintah dan pihak perusahaan pertambangan, semacam menonton dua wanita muda berkelahi di depan kelas merebut buku berharga–saling menarik sekuat tenaga tetapi sama-sama tidak menginginkan buku tersebut sampai robek. Kalau pemerintah terlalu saklek mengenai pelarangan ekspor mineral mentah selalu muncul ancaman kekhawatiran berupa operasi pertambangan terhenti yang berdampak pada terganggunnya stabilitas ekonomi daerah setempat hingga nasional dan kekhawatiran terlalu banyaknya jumlah tenaga kerja yang bakal mengalami pemutusan hubungan kerja. Haruskah kita terus khawatir seperti itu? Tidakkah berlebihan jika kekhawatiran demikian terus terjadi? Haruskah kekhawatiran melemahkan Undang-Undang yang mengatur peningkatan nilai mineral dalam negeri? Haruskah kita terus berada di dalam lingkaran setan ini? Haruskah saya menulis berlembar-lembar, isinya hanya pertanyaan? Oke, cukup.
Continue reading

Pemurnian Mineral Dalam Negeri, Jangan Dikasih Kendor!

process-plant-pt-amman-mineral

Setelah diadakannya siaran pers pada tanggal 2 November 2016 lalu, banyak seliweran berita tentang perubahan nama tambang emas-tembaga bergengsi yang beroperasi di Sumbawa Barat–dari PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) resmi menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)–setelah tambang tersebut beroperasi penuh selama enam belas tahun terakhir. Lalu saya melempar jokes ini ke salah satu kawan, “Tambang Batu Hijau saja sudah berganti nama berganti pemilik, sementara kamu masih sibuk dengan hatimu mencari pemilik baru setelah ditinggal mantan selagi sayang-sayangnya?” Lalu si kawan itu melempar balik kata Setan dengan mulutnya persis di depan hidung saya. Continue reading

ESDM: Harus Konsisten, Bukan ‘Seharusnya’ Konsisten

32Tambang

gambar dari: http://sinarharapan.co/

Pada 28 Januari 2016 lalu, izin ekspor konsentrat PT. Freeport Indonesia (PTFI) kadaluarsa, setelah ekspor bahan mentah bisa mereka jalankan selama 6 bulan terakhir dengan syarat khusus. Nasib PT. Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) sepertinya kurang lebih sama saja. Bahkan operasional PTNNT sekarang jauh lebih woles, kabarnya.

Baru-baru ini PTFI mengirimkan surat permohonan perpanjangan izin ekspor kepada pemerintah, yang kemudian pemerintah mengirim balik surat respon dengan syarat-syarat khusus yang lebih diperketat lagi. Salah dua dari syarat yang harus dipenuhi oleh PTFI tersebut adalah:

– Membayar bea keluar (BK) sebesar 5%, dan

– Men-deposit-kan uang senilai US$ 530 juta. Continue reading

Menatap Jauh Masa Depan

smelter
sumber gambar: di sini

Sejauh ini saya—yang tampang menawan ini—masih melihat sisi kegigihan pemerintah dalam meneruskan semangat pemurnian mineral mentah dalam negeri, mengembangkan strategi ekonomi untuk mendapatkan sebanyak mungkin investor baru, dan sistem peningkatan sumber daya manusia. Meskipun terkadang pemerintah juga menunjukkan keraguan di sisi tertentu dalam menyikapi banyaknya isu pertambangan yang harus ditangani, termasuk skala prioritas dalam membereskan sekelumit masalah di negeri ini. Manusiawi lah, yang penting tidak angkat tangan dan angkat mulut dengan kata menyerah. Continue reading

Pemurnian Harga Diri Bangsa

biggest-gold-mining-companies

“Jika engkau ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tapi jika engkau ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama. – Ratan Tata.”

Ya. Sektor pertambangan Indonesia terus menuai tantangan demi tantangan atas mimpi besarnya menjadikan negeri ini kaya sebagaimana mestinya. Masalah yang tak kunjung selesai adalah pemurnian bahan mentah dilakukan dalam negeri dengan pengharusan adanya smelter—pemerintah lewat aturan mineral dan batu-bara telah menegaskan proses hulu hingga hilir, namun tak sedikit pelaku usaha pertambangan yang masih saja mencoba mencari celah dengan berbagai alasan. Alasan-alasan yang muncul dari pengusaha tersebut, kalau tidak dicermati dengan teliti dari sudut pandang aturan dan kesejahteraan jangka panjang, memang logis, tetapi kalau dikembalikan pada aturan dan mimpi bangsa, sungguh tampak sebagai pembelaan diri belaka. Continue reading