Tamparan Keras Membekas di Hati Yang Keras!

“Mental kamu baik, Mas,” kata Ifat, istri gue, di suatu sore. “Orangnya komit, sigap, responsif, bertanggungjawab, loyal. Sayangnya itu hanya terjadi ketika kamu berurusan dengan pekerjaan yang menghasilkan uang.”  Kalimat terakhirnya menampar gue keras banget.

Gue terbangun dari baring-baring males, memegang tangannya, menatap matanya, melempar senyum kecil yang diikuti kalimat pendek, “Kamu jujur banget sih, sayang?” Gue jadi menggagalkan niat kentut.

Sprei yang ketarik dan beberapa barang yang tergeletak di sekitar tempat tidur tiba-tiba tampak sangat berantakan di mata gue yang entah kenapa jadi memerhatikan itu semua. Padahal, pemandangan seperti itu adalah hal biasa di akhir pekan, dan gak pernah membuat gue merasa itu tidak rapi. Mungkin karena gue sedang gagal fokus.

Ifat terus menyadarkan gue dengan kalimat-kalimatnya yang jleb. Gue sadar banget tentang kekurangan-kekurangan yang seharusnya sangat bisa diperbaiki itu. Setelah itu gue merenung sendiri, menatap keluar jendela menembus langit dan hamparan kabel listrik, kabel telepon, serta kabel TV yang merusak pemandangan. Ergh.

KONDANGAN

Sudah tiga kali gue sama Ifat datang ke kondangan di jam orang-orang udah bubar, padahal sedari pagi gak ada acara penting, dan Ifat sudah mengingatkan berulang kali. Lima kali datang di waktu hampir bubar. Sekian kali gak datang. Sisanya datang di tengah-tengah acara.

ACARA KOMUNITAS

Dari sekian komunitas yang gue ikuti, terutama yang acaranya gue terlibat jadi panitia, Ifat sering ngomel dengan kalimat andalannya, “Kamu yang tentuin waktu acaranya, kamu sendiri yang sengaja terlambat. Malu dong sama yang lain.”

KUMPUL KELUARGA

Hampir di setiap acara kumpul keluarga, gue selalu berangkat belakangan. “Nanti nyusul, ya,” selalu begitu.

JANJI KELUAR JALAN

Kalau yang ini sudah gak kehitung. Misal, hari ini gue bilang ke Ifat mau mengajaknya ke Mall besok. Besoknya pura-pura bego, sampe ditanyain, “Kita jadi keluar gak?” Ifat sudah bisa menebak jawaban gue. “Gimana kalo besok aja?” Kepala gue bakal pura-pura gatel biar sengaja gue garuk sia-sia, biar klop sama pura-pura begonya. 

Dan contoh-contoh kebiasaan buruk lainnya.

Beda halnya dengan urusan pekerjaan. Di rumah, sampe larut malam kadang masih ngurusin kerjaan. Kalau ada telepon dari kantor di hari libur, buru-buru diangkat. Paling khawatir kalau telat ke kantor. Suka sengaja telat keluar kantor. Kalau udah serius kerja, susah diganggu. Kalau bos yang manggil, tak peduli hujan badai juga ditebas.

“Intinya, Mas,” kata Ifat lagi. “Ini bukan soal komitmen dan tanggungjawab. Lebih dari itu. Ini semua tentang cara kamu menghargai sesuatu. Hargailah apapun yang seharusnya dihargai, secara bijak dan adil.”

Gue mendengarkan secara seksama, siap untuk berubah lebih baik, menerima semua kritiknya yang bener banget itu, tapi dengan sikap sok cuek kampret. Supaya gak keliatan gue sedang ditampar keras, gue menanggapinya dengan kalimat, “kali ini kamu lebih tua dari aku! hahahaha…

Lalu bantal pun meluncur ke muka.