Teman Begadang Baru: Campuran Kopi Hijau

Saya punya masalah yang membuat hati penasaran soal kopi, yakni dampak bau kencingnya. Apakah ini terjadi pada semua orang, atau pada sebagian orang saja, atau hanya saya seorang—kalau minum kopi pasti habis itu bau kencing serupa kopi? Saya menyadari hal ini sekira dua tahun terakhir, dan baru kali ini saya menanyakannya. Seingat saya, sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi demikian. Entah karena dulu hidungnya saya mengalami sensor error, atau saya yang kurang peka terhadap bau air seni? Kalau makan durian sih iya, dari dulu pasti bau kencing saya serupa durian. Tetapi kopi ini baru terjadi. Makan jengkol, pete dan sekawanannya juga bikin kencing saya bau baru-baru ini. Dulu gak pernah, karena saya baru mau makan jengkol dan pete di tahun 2017. Terkadang pertanyaan yang muncul di kepala agak banyak unsur khawatirnya: Normal gak yah bau kencing seperti kopi begini? Jangan-jangan ada sistem metabolisme saya yang bermasalah? Jangan-jangan segumpal tuyul masuk tidak sengaja lewat mulut—menelusuri kerongkongan—hingga lolos ke dalam perut saya, dan mencuri salah satu bagian penting dalam tubuh saya yang menyebabkan bau makanan dan minuman yang masuk akan sama dengan bau keluarnya. Semoga ini hanya kekhawatiran berlebihan saya saja, tolong dibantu jawab di kolom komentar untuk membantu menenangkan diri saya.

Kopi dan saya tidak seperti jengkol pete dan saya, yang baru mau saya konsumsi. Dulu saya penikmat kopi, terlebih waktu di kampung—minum kopi pasti habis bersih sama ampasnya. Tau sendirilah kalau kopi racikan sendiri pasti banyak ampasnya, dan disesap sampai merem melek di sesi terakhir. Tidak pernah tuh saya mengalami masalah bau kencing ini. Memang, saya sempat menjaga jarak dengan kopi karena pernah mengalami masalah lambung yang cukup serius—yang ternyata biang keladinya adalah pikiran, bukan lambungnya. Setelah meluruskan pikiran agar tidak mengganggu organ-organ tubuh lainnya, saya kembali berdamai dengan kopi, meski tidak sesering dulu meminum kopinya. Jaga-jaga saja. Terlebih saat bulan ramadan begini, saya harus lebih berhati-hati mengkonsumsi sesuatu yang rentan mengganggu pencernaan. Biasanya saya mencari kopi yang iklannya nyaman di lambung, seperti beberapa jenis kopi luwak. Bukan korban iklan sih, tetapi memang ada kopi yang kurang nyaman di lambung, ada yang nyaman di lambung tidak nyaman di kantung, dan ada yang nyaman di lambung sekaligus nyaman di kantong.

Ada kopi yang saya baru menemukannya, sepertinya memang produk baru karena ada tulisan inovasi baru di atas bungkusannya. Kopi ini belum ada iklannya, setahu saya. Tentu tidak ada promosi-promosi tentang kelebihannya nyaman di lambung. Yang jelas, di tengah bungkusnya terdapat tulisan ‘kopi nikmat dan nyaman’ yang membuat saya yakin untuk memindahkannya dari rak supermarket ke tangan saya melalui izin mbak-mbak kasir senilai dua puluh ribu rupiah. Iya, harga izinnya mbak-nya segitu untuk membiarkan saya membawa Nescafe Green Coffee Blend satu pack isi sepuluh sachet dari LOKA. Gak tau kalau di supermarket lain dan kota lain  harganya berapa.

 Saya menerjemahkan sendiri bahwa Green Coffee-nya Nescafe ini nyaman di lambung, yang merupakan maksud dari tulisan kopi nikmat dan nyamannya, karena memang nyaman saja di lambung saat saya mengkonsuminya setelah seharian berpuasa. Saya sampai membawa pulang mudik kopi ini ke Bima, takut di Bima belum masuk. Niaaaat…

Saya paham, sebenarnya penonjolan nyaman yang dimaksud karena punya manfaat lebih dibandingkan kopi pada umumnya. Kopi hijau ini adalah biji kopi yang tidak dipanggang seperti kopi (hitam) yang kita kenal selama ini. Dengan ditiadakannya proses pemanggangan biji kopi, asam klorogenat yang terkandung dalam kopi dengan berbagai manfaatnya itu tetap tinggi. Karena proses pemanggangan itu sendiri dapat mengurangi senyawa klorogenat. Sementara manfaat dari asam klorogenat itu sendiri, ya sebagai antioksidan, ya dapat memperlambat pelepasan glukosa, ya bertindak sebagai obat penahan nyeri seperti pada migrain, dan bahkan dapat membantu tubuh membakar lemak lebih baik. Wajar kalau kopi hijau dianggap dapat meningkatkan kemampuan koginitif pengkonumsinya dan juga meningkatkan mood positif. Logika sederhanya, kalau seseorang semakin sedikit menimbun lemak dan semakin minim merasakan nyeri seperti migrain dan sejenisnya, tentu mood akan bertahan baik. Tentu karena efek kafein dengan takaran yang pas juga.

Kopi hijau sempat populer dengan kemampuannya menurunkan berat badan. Asam klorgenat di biji kopi hijau ini konon dapat diserap dan dicerna oleh tubuh secara maksimal sama seperti yang terdapat pada ekstrak kopi. Meski penelitian tentang kemampuan kopi hijau dapat menurunkan berat badan tidaklah terlalu lama, tetapi terdapat pembuktian-pembuktian yang meyakinkan. Ada sih beberapa pendapat yang menyatakan, bahwa kopi hijau dapat menurunkan berat badan belumlah bisa dibuktikan banyak orang dan tidak terlalu efektif. Tetapi setelah saya telusuri sana-sini, karena mereka mengharap turun berat badan hanya dari kopi hijau tanpa perlu berolahraga. Ini sih repot ya. Mau hasil banyak tetapi usahanya sedikit. Kan udah dibilang membantu pembakaran lemak, bukan sebagai pelaku utama yang menggantikan kegiatan olahraga.

Yang menarik lagi menurut saya,  adalah hasil penelitian yang dilakukan Clinical and Experimental Hypertension menunjukkan bahwa pasien dengan masalah darah tinggi yang mengonsumsi 140 mg ekstrak biji kopi perhari menunjukkan penurunan tekanan darah yang cukup signifikan. Kata mereka, belum ada efek samping yang dilaporkan oleh pasien yang menafaatkan biji kopi hijau untuk itu.

Penderita penyakit Alzheimer—kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya perlahan-lahan—juga mengkonsumsi biji kopi hijau untuk pengobatan. Ini lebih menarik lagi. Dan hasilnya ada, meskipun bukan untuk menyembuhkan banget. Namun kalau kita lihat di sisi sebaliknya, orang mengkonsumsi kopi hijau sebelum mengalami sakit, bisa dibilang dapat menurunkan risiko penyakit Alzheimer itu sendiri.

Ya. Kopi tetaplah kopi. Konsumsi berlebihan pasti memiliki dampak tidak baik juga. Kandungan kafeinnya sendiri kalau kebanyakan bisa bikin orang insomnia. Semua butuh takaran dosis yang pas. Dari beberapa referensi, kopi hijau hanya boleh dikonsumsi maksimal 480mg per-hari, selama 84 hari. Itu kalau diminum terus-terusan. Kalau diminumnya tidak sehari-hari batasan waktunya juga lebih panjang. Apalagi kalau minumnya lebih sedikit, seperti yang terkandung dalam Nescafe Green Coffee Blend yaitu 20mg per sachet, tentu aman dikonsumsi terus-terusan. Kecuali mengkonsumsi setiap hari sepanjang waktu tetapi utang terus di warung, itu saya jamin tidak aman.