Tersenyum Dalam Kesederhanaan

Delapan setengah tahun lalu, hal yang membuat laman blog ini jadi ada adalah kebiasaan saya mengikuti tulisan-tulisan lucu di berbagai blog orang-orang yang sangat asing bagi saya saat itu. Saya selalu membawa pulang tawa dan kesenangan usai mengunjungi blog-blog yang sudah saya tandai. Di kepala saya, blog itu adalah kelucuan yang melimpah. Lalu tergeraklah hati dan jari untuk membuat blog sendiri supaya bisa berbagi tawa ala kadar, bukan saja sebagai penikmat. Tanpa pikir panjang saya beri tema blog ‘Tersenyum Dalam Kesederhanaan’.

Selain tema senyum yang sederhana, foto profile yang saya pakai pun tak kalah sederhana; sesosok saya di atas batu sungai besar yang dikelilingi hutan hijau dengan kaus oblong pinjaman serta kacamata hitam pinjaman bertengger di hidung minim ciuman. Gambaran singkat dari foto saya kala itu adalah Ian Kasela gagal rekaman. Begitulah kebanyakan orang menilainya.

Saya tidak berpengalaman menulis pada tahun 2009 itu, hanya merasa punya suntikan energi lebih saja kalau sudah bersentuhan dengan tuts keyboard. Setiap telinga mendengar suara tak tik tuk keyboard, rasanya seperti terbang tinggal di dunia lain yang tak saya kenali saking indahnya. Ya. Itu gambaran yang lebay. Tapi, memang saya lebay. Kenapa? ūüėõ

Saya tidak menulis sesuatu selama tidak ada ¬†unsur lucunya waktu itu, paling tidak untuk ukuran saya sendiri. Kalau ada yang menikmatinya dengan tawa ya syukur, kalau tidak ada ya¬†kukur.¬†Namun pada akhirnya, sikap berlebihanlah yang membuat saya menjadi tidak konsisten. Gara-gara melihat sekian banyak blog yang pakai tema tertentu dan menurut saya itu yang bikin ramai, saya ubah tema blog saya menjadi ‘Zulhaq Sinting’. Semua-semua dikasih judul Sinting, bolak-balik mengaku diri sinting. Belakangan saya sadar, saya sudah terlalu memaksakan sesuatu. Sehingga kejadian aneh-aneh sengaja dicari, keluar di jalanan berharap ada kesintingan hidup terjadi. Lambat laun saya bosan dengan pemaksaaan demikian, karena sejatinya saya tidak sinting melainkan ganteng tiada tertandingi. Dan, silakan muntah, Pemirsa!

Setelah kesintingan berlalu, saya kembali mengeluarkan quotes pendek: tak ada alasan untuk tidak tersenyum. Sayangnya, saya kembali tergoda untuk menulis hal ini itu yang saya asumsikan lebih disukai oleh orang, yang ujung-ujungnya tidak menggambarkan tentang makna sebuah senyuman. Padahal, tidak sepenuhnya saya sendiri sukai akan tema-tema yang melenceng meskipun tidak tampak melenceng itu. Dan, ya, kembali saya merindu menulis apa-apa yang mengembangkan senyum. Mau menulis lucu, saya sadar diri, saya tidak selucu para komedian yang pandai mengocok perut kids-kids jaman now. Menulis yang mengembangkan senyum, rasanya lebih bisa saya pertanggungjawabkan. Gitu.

Apa yang membuat saya kembali mengingat asal, Tersenyum Dalam Kesederhanaan?

Tanggal belasan Oktober 2017 saya berkesempatan ke tanah Papua, di sana saya menyaksikan langsung bagaimana para pendulang emas tradisional meleburkan diri dan waktunya di tengah sungai keruh berpasir untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah ukuran yang mereka butuhkan.

Dari kejauhan saya melihat hamparan ratusan alat pengayak berbahan kayu dengan¬†warna-warni yang ditoreh sedemikian rupa. Sudah pasti ratusan orang juga berjejer di sepanjangan sungai. Teman saya berkomentar, “Kasihan ya mereka itu. setiap hari merendam diri di sungai yang keruh begitu. Kakinya pasti luka-luka, kulitnya menipis dan bersisik akibat rendaman air kurang bersih sepanjang hari setiap hari.”

Saat mendekat, saya menemukan penggorengan yang dipakai untuk alat mengayak tambahan dan beberapa benda dapur yang disulap menjadi penghasil emas recehan. Pemuda berbadan rata tanpa baju melempar pasir ke arah rekannya, yang mengundang reaksi balik–ia dicipratin air sungai dengan kekuatan pukulan tangan seorang kawannya itu. Gebyar!

Beberapa orang di sisi kanan kiri pun tak kalah bersenandung lewat nyanyian bahasa tubuhnya. Ada yang mengambil pasir dan memindahkan ke ayakan dengan gaya menyamping, ada pula yang mengakhirnya dengan gaya nungging maju mundur cantik. Sementara beberapa orang yang sedang tidak mengayak, berjalan menyusuri pinggiran sungai dengan karung sekaligus tas besar di punggungnya, pisang mentah di tangan kiri dan jerigen air bersih di tangan kanan, ada pula yang bawa parang penghunus semak, semuanya berjalan berurutan seperti bebek di buku cerita anak saya. Dua lelaki dari sekian orang itu tidak memakai baju, hanya memakai celana dalam warna ungu berbalur pasir dan gumpalan lumut. Sungguh kombinasi pelindung burung yang prikitiw. Saya tidak begitu mau memperhatikan itu sebenarnya, kalau saja warnanya tidak ungu berbalur gumpalan lumut. Yang saya perhatikan betul-betul adalah ketidakpedulian mereka terhadap apa yang tampak di sekujur tubuh. Mereka hanya peduli, dalam perjalanan kaki berkilo-kilo meter bersama beban barang itu tidak boleh dihinggapi rasa lelah. Mereka jalan bersemangat, bahkan tanpa alas kaki, dengan kembangan senyum tulus yang jelas membuat manusia jenis lain akan iri terhadapnya.

“Coba lihat senyum tawa mereka,” kata saya ke teman yang berkomentar tadi. “Yang kasihan itu, mereka yang berendam di sungai dengan senyum tanpa batas itu atau kita yang banyak bergaya tetapi seringkali berada dalam tekanan ini?” Kamipun tertawa dan saling padang.