The Power of Keberuntungan

“Mohon maaf seat pesawatnya penuh, Pak,” kata petugas di counter check in Garuda sedikit gugup. “Saya antar ke kantor customer service ya, Pak, untuk bantu menjelaskan permasalahannya.” Saya melempar senyum, berjalan gegas namun tenang. Tak ingin menjadi bagian dari masalah, saya menunjukan sikap biasa yang tak sedikitpun menggambarkan kekesalan. “Tuhan tahu apa yang terbaik buat hambaNya,” kata saya dalam hati.

Di kantor CS Garuda, petugas berambut ikal itu meminta maaf berulang kali dengan gerakan dan air muka yang begitu merendah. Saya katakan padanya, tidak apa-apa. Tak usah merasa bersalah. Tak perlu begitu merendah di depan manusia hanya karena sebuah ketakutan demikian. CS dan petugas counter bukan penjual tiket, tidak ada yang perlu dirasa salah.

“Iya, sekali lagi kami mohon maaf karena over booked sehingga terjadi kelebihan penumpang. Terimakasih banyak atas pengertian Bapak,” katanya dengan senyuman. Dia begitu lega, begitu tenang mendapati saya yang tak melempar kata komplain sedikitpun. Bahkan saya tak menanyakan alasan over booked yang terjadi, karena semua sudah terjadi. Kalau pun saya tahu alasannya, so what? Petugas itu hampir mengepalkan tangan kanan kirinya dan berkata “yes yes yes” seperti penggemar bola yang menyaksikan jagoannya membobol gawang lawan, saking ketakutannya terhadap customer ternyata tidak kejadian, dan tak perlu.

“Kami geser ke penerbangan berikutnya ya, Pak. Dari jam 6:40 ke Jam 8:55?” Saya mengangguk dan tetap melemper senyum. “Kami kasih cashback 600 ribu atas perubahan jadwal yang mendadak ini ya,” lanjutnya. Saya menolak. Karena itu bukan hak saya. Tiket dibayar kantor, masa saya harus mengambil untung. “Kami kasih seat di bussines class saja kalau begitu. Sebentar saya buatkan surat keterangan keterlambatan penerbangan, mungkin bisa bapak pakai untuk keperluan di kantor karena bapak mengalami keterlambatan.”

Saya ditinggal sendirian di ruang tunggu kantor CS, saya menyibukkan diri dengan selfie kanan kiri atas bawah. Saya tetap chatting seperti biasa dengan isatri saya–Ifat–tanpa berusaha membuatnya khawatir dengan adanya sedikit masalah. Saya tak mengkhabarkan perkara over booked.

Tak lama petugas datang dan memberi kejutan. “Bapak bisa ikut penerbangan sekarang, sesuai jadwal. Tetap mendapat Bussines Class karena barusan kami update, ada seat depan yang kosong.” Saya menyalami petugas itu, saling memantulkan sorot mata yang memancarkan rasa saling senang dan saling tenang. YEAH!

Menikmati Bussines Class dengan bayaran Economy Class adalah gokil lalala yeyeye!

Saya menikmati fasilitas dan layanan yang diberikan tanpa rasa bersalah. Coba saya komplain, marah-marah, pas dikasih lebih pasti awkard lah. Malu kali, teriak maling tapi mengambil bagian dari hasil curian. Maaf kalau analoginya kurang pas, tapi hanya itu yang terlintas di kepala saat mengetik tulisan ini.

SEHARI SEBELUMNYA ADA CERITA SERUPA PULA

Tiba di Hotel Aviary Bintaro, saya disuruh menunggu sebentar waktu oleh sang resepsionis karena kamar Deluxe yang dipesan kantor untuk saya sudah penuh, padahal dipesan dari minggu lalu. “Bapak terlambat sehari ya? Karena kemarin bapak gak datang, gak ada check in, kamarnya kami kasih ke penginap lain. Mohon menunggu ya Pak.” Santai aja. Gak ada yang dikejar ini.

Saya sedikit menjelaskan bahwa jadwal saya memang senin malam bukan minggu malam. Sebelum saya menunjukkan bukti email, sang petugas mengatakan keterangan saya benar. Mereka yang salah lihat, karena saking banyaknya orang se-perusahaan dengan saya menginap di situ.

Alhasil, saya dikasih kamar Premiere yang harganya dua kali lipat. Harusnya dapat kamar agak sempit, eh malah dapat kamar dua ruangan yang dilengkapi dapur dan ruang tamu. Saya pakai buat dancing gak jelas deh, sambil salto ke sana kemari.

Menikmati Premiere Room dengan bayaran Deluxe Room adalah gokil lalala yeyeye!

Balikpapan, 12 July 2017