The Power of ‘Sepakat’

Gak meludah sembarangan, gak kentut sembarangan, gak asal garuk pantat di tempat umum, habis boker cebok pakai air bukan sekadar   tissue,  saling menjaga perasaan, saling menghormati, dan ini dan itu, hal-hal tersebut kita lakukan tanpa berberat hati atas dasar satu kata sederhana, sepakat. Ya. Karena kita sepakat. 

Pagi ini, seperti kamis pagi menjelang siang seperti biasanya, saya sharing dengan para teknisi–mekanik, electrician, welder, mason, dan lain sebagainya–di tempat kerja. Saya dan mereka sama-sama karyawan, yang gemar membahas apa saja untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman dan tenteram.

Di pertemuan kali ini, salah satu bahasan kami adalah tentang pengubahan kalimat “tidak boleh merokok di tempat yang terdapat tanda dilarang merokok” menjadi “dilarang merokok, kecuali di tempat yang telah disediakan.” Hal ini untuk mempertegas kembali aturan larangan merokok di area kerja operasinal, larangan merokok sambil kerja, terutama di bengkel utama. Saya lebih suka melihat rambu area merokok terpasang daripada rambu dilarang merokok di berbagai tempat–lebih bebas dari debat kusir.

“Kok kamu ngerokok di sini, kan ada tanda larangan tuh?”

“Yang gak boleh kan ngerokok di tiang itu, Mas, menggantung di tanda larangannya.”

Debat-debat basi, gak penting seperti itulah yang kadang terjadi jika yang diterapkan adalah pilihan kalimat pertama.

Urusan seperti ini, perdebatan demi perdebatan terus terjadi. “Kenapa merokok dilarang, sementara pekerjaan pengelasan, penggerindaan, gauging, yang menghasilkan api justru menjadi kegiatan rutin? Bukankah itu yang lebih berpotensi menyebabkan kebakaran?” Jawabannya sih banyak. Salah satunya, rokok sangat mungkin dibuang sembarangan–sadar atau tidak sadar–dalam kondisi masih menyala. Percikan dan api dari pekerjaan pemotongan dan pengelasan tidak demikian adanya.

Tapi, apakah segala hal harus terus dilalui dengan perdebatan dan saling jejal pendapat egois seperti itu? Rumit sekali hidup ini. Sementara dasar dari aturan itu sendiri sudah sama-sama diketahui, masalahnya terletak di kebiasaan mencari-cari celah untuk di-debat-kusir-kan.

Kehidupan tidak serumit itu. Hidup ini mudah, selama yang dibangun, dijaga, dan dibela adalah kata sepakat. Ini kenapa jadi bawa-bawa moto kota Balikpapan–kubangun, kujaga, dan kubela? hahaha.

Saya sampaikan analogi dan contoh-contoh ke teman-teman, saya ajak untuk sama-sama melupakan debat kusir menjauhkan alasan dan alasan, supaya hidup tidak serumit bulu kelamin.

Saya keluarkan suara ‘sssstttt..’ diikuti telunjuk kanan tegak menutupi bibir. “Apa maksudnya?” tanya saya. Teman-teman bersorak, “diaaaam.” Dan, beberapa contoh-contoh bahasa tubuh, bahasa isyarat lainnya.

“Dari mana asalnya kode demikian? Siapa yang menciptakan? Apakah pernah kita diajarkan dengan sengaja apalagi formal, bahwa itu lah artinya? Siapa yang mengharuskan penggunaan kode seperti itu sebagai cara yang lebih sopan dalam meminta seseorang untuk diam?” Jawabannya, kita tidak tahu persis. Tapi kita melakukannya. Diam ketika ada yang memberi kode seperti itu. “Karena kita semua sepakat dengan itu,” terang saya. Semuanya manggut-manggut, tersenyum, ada juga yang menertawakan diri sendiri.

Di daerah Indonesia pada umumnya, tidak sopan bertelanjang dada di tempat umum, menutupi kemaluan hanya dengan koteka, tapi di daerah terpencil di Papua sana hal seperti itu wajar–hampir semua orang memakluminya. Kita memakluminya. Karena apa? Karena kita sepakat. Sepakat di daerah sana hal itu wajar. Tidak lagi diperdebatkan, tidak lagi dijejali dalil ini itu, bahkan tidak menimbulkan berahi. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Kembali saya sampaikan ke teman-teman, contoh di atas gak ada bedanya dengan aturan-aturan di lingkungan kerja, untuk menata keteraturan segala sesuatu hal yang ada. Pasti ada saja aturan yang dirasa tidak cocok dengan segelintir orang, dan itulah pentingnya membangun sebuah kesepakatan. Memang, untuk mendapatkan kata sepakat, harus diawali dengan penjelasan dan dasar-dasar yang logis. Tapi modal penjelasan dan dasar-dasar logis bukan jaminan. Selama tidak disepakati, aturan akan menjadi sampah. Di mata pihak yang tidak sepakat, aturan hanyalah bualan belaka. Dianggapnya tidak penting.

Pertemuan kami alhamdulillah diakhiri dengan kata sepakat–bahwa aturan-aturan umum di lingkungan kerja, bukan untuk diperdebatkan lagi melainkan untuk dijalani, atas dasar kesepakatan itu sendiri.

Balikpapan, 10 September 2015.