Tips Hemat Air

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk (hampir) selalu tinggal di daerah yang ketersediaan air bersihnya tidak berlebihan. Sehingga saya punya kelebihan untuk tidak risih jika tidak mandi, cukup berdamai dengan bau badan, biasa saja dengan rasa gatal, dan yang paling penting bisa mandi keramas hanya dengan air satu ember. Lebih pentingnya lagi, saya bisa ngeles seperti ini.

Dari lahir hingga SMP saya tinggal di kampung, tidak ada fasilitas  air PDAM–hanya mengandalkan air sungai dan air sumur. Kalau sudah musim kemarau, sungai pasti kering di sana sini. Di puncak musim kemarau, sumurpun bisa kekeringan. Di satu desa, yang tidak kekeringan di puncak musim kemarau tidak sampai 10 sumur–yakni sumur yang kedalamannya lebih dalam dari cintanya Raffi Ahmad ke Nagita. Yang tadinya setiap RT punya sumur masing-masing, orang yang ngantri adalah warga se-RT, di puncak musim kemarau banyak yang pergi lintas RT dan menjadi pengantri yang dipandang asing oleh sang pemilik RT.

Lucu loh lihat antrian sekitar sumur begitu, bisa melihat berbagai kegiatan; ada yang berdiri di jalan ngelamunin apakah kayu bakar di rumah masih cukup sampai besok, ada yang ngebayangin kapan pohon jambu sang peneduh sumur berbuah lagi, ada yang menatap sinis orang yang lagi menimba air dengan kalimat “kamu lama amat sih, nimba air saja kayak artis yang takut telapak tangannya kasar!”, ada yang lagi meras santan kelapa lalu ditaburin ke seluruh helai rambutnya, ada yang lagi nyuci dengan cipratan busa sabun terkadang masuk ke lubang sumur, ada yang sibuk ngebersihin selokan dari rontokan rambut sejuta manusia dan bugkun sabun sekaligus shampoo yang dibuang sembarangan oleh tuannya supaya tidak buntu, ada yang sok rajin menyiram jalan pake air selokan–buangan pengguna sumur–supaya tidak berdebu, ada yang sedang menyabun badannya–menyelipkan batang sabun ke seluruh badan yang hanya  ditutupi dengan sehelai sarung–tangan kanan menggerayangi badan dengan sabun tangan kirinya memegang sarung supaya aman, dan ada juga yang kurang ajar; mengharapkan sarung seseorang yang sedang sabunan terlepas dan melorot. Untungnya harapan si kampret yang terakhir ini tidak pernah kejadian.

Pertengahan musim hujan keramaian pindah ke sungai, sumur cenderung sepi, kecuali sungai sedang banjir–keruh, deras tidak karuan, terkadang merusak tanaman persawahan. Yang mandi, yang nyuci, yang berak, semua berkolaborasi. Jalan menuju sungai ada banyak, katakan ada satu jalan per-tiga RT, dan jumlah RT dalam satu desa ada lima belas. Berarti ada lima jalur menuju sungai, dan ada lima titik orang berkegiatan mandi-nyuci-berak. Setiap titik punya aturan yang serupa, aturan tak pernah dibicarakan tetapi terjadi begitu saja: yang mandi paling atas, yang nyuci di tengah-tengah, yang berak paling bawah. Tetapi masalahnya, di atas mereka ada lagi kelompok yang berkegiatan sama. Berarti tetap saja terpapar kotoran yang merupakan sisa makanan yang dibuang lewat anus manusia. Yang posisinya paling atas di satu desa tidak bisa dibilang aman, karena ada desa di atas sana lagi yang melakukan kegiatan serupa dengan pola serupa. Yang aman hanyalah desa teratas, yang tinggalnya di kaki gunung. Itupun kalau monyet gak berakin air gunung loh yah. Oh ya, yang mandi di sungai temasuk kerbau dan kuda. Dan pasti sering berak juga.

Yang paling unik dari kegiatan berak di sungai ini adalah, adalah sikap damainya pikiran semua orang tentang kegiatan itu. Tidak ada yang memandangnya sebagai hal aneh mengumbar aurat, dan tidak ada yang niat mengintip dengan seksama, dan tidak memadang itu sebagai hal yang tabu. Padahal, apapun jenis kelaminnya sebagian pantat akan terumbar. Bayangin saja prosesnya: seseorang yang perutnya mulas mencari titik sungai yang agak dangkal tetapi beraliran lancar, kemudian menunduk untuk bersiap jongkok tetapi harus melorotin celananya atau mengangkat roknya lalu menurunkan celana dalamnya ketika di posisi setengah jongok. Dalam kondisi ini, pasti ada kondisi pantat tidak tertutup apa-apa sebelum akhirnya bagian terbuka pantatnya terendam air sungai. Pas mau pake celana atau nurunin rok, seseorang tersebut harus agak berdiri untuk menutup semuanya karena menjaga supaya celana tidak basah oleh air sungai. Yang perempuan umumnya membawa sarung, supaya lebih tertutup dan mukanya tidak begitu dikenali. Kenapa saya bilang tidak ada orang merhatiin sebagai konteks menatap kegiatan orang lain? Karena tidak pernah terdengar oleh saya orang yang becanda kurang ajar: eh pantatnya si itu pucat pasi, eh pantatnya si anu hitam banget, eh pantatnya si langsing burik seperti pantatnya Cut Tari. Gak ada. Tapi apapun itu, seharusnya pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kondisi demikian supaya mengupayakan air yang lebih memadai, lalu orang dianjurkan untuk membuat sebanyak mungkin toilet-toilet sederhana yang tak harus dengan biaya yang memberatkan orang kampung. Sungaipun terjaga bersih.

SMA saya pindah ke kota, tetapi tinggal di kontrakan di pinggir kota sekaligus pinggir laut, daerah bekas empang yang ditimbun dan disulap menjadi pemukiman di sebelah barat terminal kota. Fasilitas PDAM ada, tetapi air hanya keluar di waktu subuh dan malam buta. Air untuk kebutuhan esok hari harus kami tampung malam hari kalau gak mau mengorbankan jam tidur di waktu subuh. Buang air besarnya ke muara, jalur pertemuan air tawar dengan air laut yang pasang surut. Toiletnya kebanyakan berdinding terpal dengan lantai papan kayu yang menggantung dari tebing muara dan diberi lobang di tengahnya; plung plung plung. Begitu kotoran menyentuh air, ikan-ikan yang jenisnya gak saya tau itu berdatangan merebut sisa makanan yang saya buang lewat anus itu. Proses itu menjadi pemandangan yang lucu sekaligus menjijikkan–senang melihat semangatnya ikan merebut makanan, jijiknya karena setiap hari saya makan ikan. Dan lucunya, ikan-ikan itu harus berebut juga dengan waktu, kotoran akan segera terbawa oleh arus. Di setiap toilet muara terdapat ember kecil dengan tali nilon agak panjang. Ceboknya pake air muara yang di-eek-in juga. Kalau air sedang surut, kita harus bawa air untuk cebok, dan bagian paling gak enaknya melihat kotoran sendiri tercecer dan dikeurubutin lalat di bawah lantai toilet. Begitulah.

Selama kuliah saya tinggal di kos yang… yeah, tidak ada fasilitas air keran. Hanya ada sumur dengan kedalaman yang luar biasa, kalau mau mandi, nyuci, berak, harus nimba air terlebih dahulu. Dan, hanya kos ini yang paling murah sesuai kemampuan bayarnya saya, saudara-saudari. Pernah waktu perut mules parah, mau nimba air dulu keburu muncrat, akhirnya masuk toilet dulu membobardir kloset, baru keluar mengendap-endap dengan posisi celana setengah naik supaya tidak terpapar kotoran, lalu buru-buru menimba air dan kembali lagi ke bilik toilet menyiram kotoran–kalau ketauan bakal dibully sama teman-teman. Begitulah.

Tahun keenam kerja, saya memilih kerja di salah satu tambang di daerah Sumatera, tambangnya baru bukaan–air bersih juga menjadi sesuatu yang mahal. Seringkali kami mandi dari genangan air hujan di danau buatan. Kadang kalau males ke danau, ya gak mandi. Begitulah.

Sekarang saya tinggal di Balikpapan, kota, tetapi tetap saja sering kesulitan air. Tahun 2014-2015 jalur air ke kontrakan saya macet. Akhirnya beli air tandon-an selama satu tahun. Pindah ke rumah sendiri juga tetap beli air, karena air PDAM tak kunjung masuk. Pindah tinggal ke rumah mertua juga sama saja, seringan mati air ketimbang ngucurnya. Begitulah.

Dari perjalanan hidup yang penuh dengan kecukupan air bersih ala kadarnya itu, saya tidak terbiasa mandi gebyar-gebyur yang bikin boros air. Sekian banyak orang lain yang saya wawancarai, kalau mandi umumnya: siram badan sampe puas, kemudian sabunin muka, siram-siram lagi, sabunin badan, siram-siram lagi, keramasin rambut, siram-siram lagi, sikat gigi, siram-siram lagi. Siram-siramnya banyak banget. Setiap tahapan ada siraman badannya. Kalau saya sederhana parah: siram seluruh badan asal basah, saya sabunin muka pake pembersih muka, kemudian sabunin badan sampe kaki, taburin shampoo di kepala, lalu sikat gigi. Sampai tahap sikat gigi saya baru menyiram badan dengan air sekali, sabun muka, sabun badan, shampoo masih berlumuran, setelah sikat gigi baru deh saya siram kepala. Dengan saya menyiram kepala, otomatis muka dan badan ikut tersiram. Udah, selesai, begitulah. Jaminan bersih juga kok, tenang saja.

Tips dari saya ya itu saja, biasakan mandi dengan tidak membuang-buang air yang tidak perlu. Jangan sampe ada masanya kekeringan, terus kalian gak terbiasa, lalu sok merasa paling menderita sendiri.

Kau tahu? Hanya untuk menyampaikan pesan pendek ini, saya harus berbasa-basi panjang, mengumbar sedikit aib, dan melayangkan ingatan hingga ke masa kecil. Antara niat atau kurang kerjaan, rasa-rasanya beda tipis saja ini.

Ada sih pengiritan yang kebablasan, yang jatuhnya jorok parah, yaitu pengiritan waktu. Saya pernah di kondisi suka telat bangun–dulu banget–sehingga suka kepepet berangkat kerja. Sementara saya punya kebiasaan seperti orang normal lainnya untuk buang air besar di pagi hari. Akhirnya yang saya lakukan: buang air sambil sikat gigi, terus cuci muka sambil ngeden, dan keramasin rambut sambil ngeluarin kotoran di anus. Kalau prosesi buang airnya lama, saya tambahin sabunin badan. Kelas buang air, tinggal beresin daerah perut ke bawah. Beres. Begitulah. Tapi sebaiknya praktik jorok ini tidak ada yang mencontoh.

Begitulah.