Seribu Sembilan Puluh Enam Hari

Waktu tiga tahun untuk perjalanan berkarir di sebuah instansi, sudah merupakan titik aman–karena seseorang sudah melewati masa adaptasi, sudah menguasai berbagai tugas dan tanggungjawab utamanya. Namun pada titik aman pertama ini, seorang pekerja mulai dihinggapi perasaan hitung-hitungan, merasa memberi kontribusi lebih dari seharusnya, yang mana jika cara perhitungannya tidak bijak maka tingkat loyalitasnya terancam menurun. Saya tidak mengatakan hal dan waktu tersebut berlaku untuk semua orang, tapi umumnya yang saya temui demikian.

Saya pikir perjalanan pernikahan agak mirip juga dengan berkarir di pekerjaan. Untuk itulah, saya sangat bangga sudah mencapai usia pernikahan tiga tahun–melewati suka duka sebegitu rupa–dengan berupaya untuk tidak membanding-bandingkan atau tidak banyak perhitungan. Tentunya, saya dan istri sangat amat siap melanjutkan perjalanan yang lebih panjaaaaaaaaang lagi, berharap tak menemukan ujung dan tak menemukan jalan putar kembali. Continue reading

Diam Itu Berlian

Seringkali keangkuhan kepala serta-merta merendahkan orang lain yang tidak menampakkan kemampuannya di muka umum, menyepelekan orang-orang diam yang memilih berdiri di barisan belakang. Ya, saya sedang membicarakan kebusukan isi kepala saya sendiri yang tak jarang berlaku tidak adil dalam pikiran. Bahkan terhadap pasangan saya ketika awal-awal mengenalnya. Continue reading

Pembanding Sebanding Tak Sebanding

Tidak peduli dijadikan suruhan untuk membeli rokok ketengan atau mengambilkan air minum, yang penting saya bisa duduk sedekat mungkin dengan orang yang pandai bermain gitar. Itu saya lakukan di zaman lagu-lagunya Base Jam dan Stinky jadi lagu wajibnya anak nongkrong pinggir jalan di kampung. Di mata saya–waktu itu–orang yang pandai bermain gitar adalah sebahagiabahagianya umat manusia muda. Continue reading

Keajaiban Kasih Sayang Ibu dan Anak

img_20160710_083641_hdr_1468235207711

Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menerangi dunia. Lagu berjudul Kasih Ibu karya SM Muchtar tersebut masih sesekali saya dengar hingga kini. Dulu, waktu hanya sebatas sebagai anak, bagi saya lagu tersebut semacam ucapan terimakasih saja—tanpa getaran makna. Sangat berbeda ketika saya mendengarnya sekarang, setelah mejadi bapak yang setiap hari melihat tumbuh kembang anak oleh tangan istri—menangis hati dan mata ini. Ibu mengasihi anaknya sepanjang malam, sepanjang hari, sepanjang napasnya, sepanjang sadar dan tidak sadarnya, sepanjang kesabarannya, sepanjang dunianya. Itulah kenapa  kata ‘sepanjang masa’ paling tepat mewakili sepanjangan-sepanjangan lainnya. Continue reading

My First Book – By Alastair

Saya baru benar-benar menyadari, kalau Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan guru kepada anak murid–sesungguhnya bukan bertujuan mengurangi jatah mainnya anak di luar jam sekolah, melainkan bertujuan untuk melibatkan orang tua secara aktif terhadap proses pendidikan anaknya sekaligus untuk mendekatkan anak dan orang tua dalam proses belajar dan bermain bersama, selalu.

Minggu lalu, guru kelompok bermainnya Alastair memberikan PR untuk membuat foto bercerita dengan tema My First Book. Alastair harus bercerita tentang dirinya, kesehariannya, dan orang tuanya. Bagaimana mungkin anak sekecil itu mampu membuat cerita? Tentu, itu PR yang ditujukan untuk orang tuanya–saya dan istri–supaya menulis dari sudut pandang Alastair. Ini yang membuat saya sadar tentang pernyataan saya di awal tentang PR.

Saya mengambil beberapa foto yang saya sisipkan di paragaraf terkait–tetapi di postingan blog ini, saya menyatukan semua foto yang saya gunakan di buku kecil yang sudah dijilid dan dikumpulkan ke gurunya Alastair itu, supaya tidak kepanjangan. Berikut sepenggal kisahnya Alastair: Continue reading

Kabinet Baru, Harapan Baru

offshore

Seperti sekumpulan awan yang sedang bergerak menuju satu titik temu lalu menuai mendung yang akhirnya menghasilkan hujan, seperti itulah saya melihat pergerakan sektor pertambangan mineral dan batu-bara belakangan ini. Terkadang khawatir dengan semakin merosotnya nilai komoditas, namun saya berharap yang turun adalah hujan rahmat, bukan hujan badai. Meski ada kekhawatiran, optimisme masih lebih kuat, karena saya melihat semacam ada rencana besar dari pemerintah yang belum begitu dimunculkan secara gamblang ke publik terkait dengan pemaksimalan sumber daya alam berupa mineral dalam negeri. Continue reading

Pajak Bersajak: Mempertahankan Kepentingan Nasional Republik Indonesia

pajak

“Berkenaan dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 101/PMK.010/2016 tanggal 27 Juni 2016 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PMK-101/2016), dengan ini kami sampaikan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Untuk menghitung Pajak Penghasilan Karyawan dan Perorangan Tahun Pajak 2016 mengalami penyesuaian seperti di tabel terlampir. Ketentuan mengenai penyesuaian besarnya PTKP tersebut mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2016. Oleh karena itu akan ada penyesuaian perhitungan PPh21 Masa Januari sampai dengan Juni 2016 yang menyebabkan lebih bayar. Kelebihan pembayaran pajak ini akan dikompensasikan ke perhitungan PPh21 Masa Juli 2016 pada saat pembayaran gaji periode Juli 2016.” Saya kegirangan ketika mendapat blast email berupa memo tersebut dari kantor pusat. Gajian (tambahan) akhir bulan Juli kemarin berasa seperti karyawan yang baru mendapat promosi jabatan, nilainya lumayan, bisa buat beli rambak untuk makan siang selama setahun bahkan lebih.  Continue reading

Perusahaan Impian

Sebuah truk melaju kencang dengan kecepatan yang sulit diperkirakan dengan nalar biasa, entah apa yang sedang ia kejar sekaligus ia hindari. Sementara seorang ibu yang entah ke mana arah tujuannya–berusaha melindungi anak kecil di gendongannya dengan menutupi anaknya dengan ujung kerudung lusuhnya–terus berjalan tanpa peduli dengan truk mana yang telah menghasilkan debu sebegitu rupa, juga tidak peduli dengan keberadaanku yang menatapnya dari seberang jalan. Continue reading

Guru vs Murid atau Benar vs Salah?

conflictgambar dari: sini

Seorang kepala sekolah dipenjara selama tiga bulan karena membiarkan gurunya terus berselisih dengan murid: guru kerap menampar murid dan murid kerap mengancam keselamatan guru di luar sekolah. Petugas kebersihan sekolah tersebut  yang begitu sayang sama kepala sekolah, mendatangi kantor polisi—meminta dirinya ditukar dengan kepala sekolah. “Biarlah saya yang dipenjara, Pak Polisi,” pintanya memelas, seakan-akan dia meminta sesuatu yang menguntungkan dirinya. Continue reading