100 Hari yang Melelahkan (?)

Seratus hari, waktu yang tidak terlalu singkat juga tidak terlalu panjang. Tergantung dari sisi mana mata melihat sudut pandangnya. Saat-saat ini, ketika kalimat seratus hari muncul di media, dengan mudah orang menangkap maksud di baliknya, sebelum membaca detail isinya. Ya, masa kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla beserta para jajaran Pemerintah yang bekerja di bawah kabinetnya.

Kenapa hari yang melelahkan? Continue reading

3M Plus Minus

Salah satu radio swasta sedang memutar lagu All About That Bass,  persis ketika gue mengalami kemacetan menuju kantor. Kemudian diikuti dengan iklan layanan masyarakat tentang pencegahan penyakit demam berdarah.

“Lakukan 3M… Menguras, Menutup, Mengubur.” Begitu mendengar kalimat tersebut, otak gue berputar jauh ke arah yang tak terkontrol. Bukan tempat air, bukan bak mandi, dan bukan kaleng-kaleng bekas yang muncul di kepala gue, melainkan…. mereka yang putus cinta! Heuh…

Ya. Menurut gue para penggalau yang mengalami putus cinta, rata-rata salah dalam menerapkan pesan layanan masyarakat tentang 3M.

Menguras.

Menguras air mata, hingga dengan sengaja lupa makan lupa tidur. Bahkan lupa kalo pakaian dalam yang dikenakan udah berminggu-minggu gak diganti. Helloooo….

Menutup.

Menutup jendela, menutup pintu kamar, hingga menutup hati. Mau dinasehatin seperti apapun, susah—masuk telinga kanan, keluar lewat anus bersama kotoran. Senengnya menyiksa diri. Helloooo….

Mengubur.

Mengubur harapan-harapan yang sudah sekian lama dibangun susah payah, “yah, menikmati kesendirian dulu lah.” Begitu cara mereka menghibur diri sekaligus menyiksa diri terus menerus. Helloooo…. Continue reading

Lingkungan Indonesia, Tanggungjawab Kita

“Saya menerima jasa pembuatan AMDAL untuk perusahaan, jika ada yang membutuhkan silahkan untuk menghubungi saya, harga bisa diatur.” Ujar salah seorang pengajar, waktu gue mengikuti pelatihan dan sertifikasi Ahli K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Seketika gue meletakkan pulpen yang ujung kepalanya sempat hinggap di antara gigi atas dan gigi bawah–melongo!

Dia bukanlah seorang pengusaha, yang memiliki perusahaan jasa konsultan untuk menangani masalah pengelolaan lingkungan secara profesional dan lain sebagainya. Bukan juga bukan pegawai perusahaan konsultan. Dia seorang pengajar paruh waktu, yang mengambil kerjaan-kerjaan apa saja yang di bisa secara paruh waktu, freelance, membantu perusahaan-perusahaan yang membutuhkan. Tepatnya, perusahaan yang membutuhkan cara cepat, walau dengan proses tak tepat. Heuh! Continue reading

Menjual Tampang Melas

munthu-cobek-batu-merapi“Jika kamu menemukan orang lanjut usia atau orang yang punya keterbatasan fisik berjualan, belilah barang dagangannya walaupun sedang tidak kamu butuhkan. Karena membeli hasil jualan mereka, lebih baik daripada memberi kepada tukang minta-minta yang memiliki kesempurnaan fisik.” Quotes seperti itu sering kali gue jumpai di media sosial, disertai dengan gambar nenek-nenek jualan pinggir jalan.

Setuju.

Continue reading

Angka 3 (tiga)

31 Desember; dunia disibukkan oleh pro-kontra pesta kembang api, suara petasan, warna-warni hiasan persiapan sambutan tahun baru, dan resolusi demi resolusi. Meriah. Tak dipungkiri itu. Tak ada yang benar-benar bisa menghalangi euphoria-nya.

31 Desember; waktu di mana seorang malaikat yang gue sebut Ibu melahirkan anak keduanya, di kampung, jauh dari mimpi-mimpi tinggi. Ia hanya tau, anaknya ini akan menjadi senyum baginya, pada waktu yang tak terbatasi. Continue reading

Dongeng Kehidupan

Dongeng sebelum tidur…ceritakan yang indah biar ku terlelap~ dongeng sebelum tidur…mimpikan diriku mimpikan yang indah…~

Gue suka lantunan ‘dongeng sebelum tidur’ bukan karena masa kecil gue dipenuhi dengan dongeng-dongeng setiap akan tidur. Lagu itu hanya membantu daya imajinasi gue dalam merasakan betapa indahnya masa kecil yang setiap hari didongengin, ditugguin tidurnya, dibangunin tanpa meributkan petunjuk waktu. Itu, yang membuat gue jatuh cinta pada lagunya Wayang itu.

Bahkan gue mampu mengingat berulang kali kalau gue berada di tengah keluarga bahagia, cemara nan ceria, berkecukupan. Ya. Orang tua gue tidak bercerai, mereka menunjukkan kepada kami betapa harmonisnya hubungan kedua orang tua gue, betapa mereka memberikan kasih sayang luar biasa kepada kami anak-ananknya. Mereka hidup dalam cinta, selama-lamanya.

Continue reading

Apalah Arti Sebuah Nama?

Nama? Bagi gue, arti nama itu penting. Oh, tepatnya, tau arti nama itu penting. Karena kita tinggal di negeri penuh pertanyaan. Nanya nama aja, pake nanya lagi artinya sekalian. Nanya punya pacar aja, pake nanya lagi kapan nikah. Nanya kabar pernikahan aja, pake nanya lagi kapan punya anak. Nanya kabar anak aja, pake nanya lagi sudah bisa apa? Kzl!

Contoh gue sendiri; Zia Ulhaq meniru nama Perdana Menteri Pakistan , ortu gue gak tau artinya apaan. Pokoknya niru aja. Huft. Banyak yang menganggap nama gue aneh, gak sedikit juga yang menanyakan artinya. Gue memberi arti di nama tersebut, ‘sinar kebenaran’. Arti yang sedikit mengandung unsur karangan, juga sedikit pemaksaan. Untung aja gak ada bahasa negara tertentu yang menggunakan kalimat ‘zia ulhaq’ yang artinya pantat hitam. Hancur reputasi gue sebagai anak.

Well. Tulisan ini gue persembahkan buat Bapak Irafdi beserta kedua istrinya–Ibu Erni dan Ibu Henny, yang telah memberi nama super absurd terhadap keenam anaknya. Absurd tapi seenggaknya kreatif, muncul dari ide sendiri, dan kocak.
Continue reading

Lagu Penuh Inspirasi: Satu Dua Tiga Sayang Semuanya…

Lagu anak-anak yang sekaligus menjadi lagu orang dewasa tukang selingkuh >> “satu dua tiga sayang semuanya….”

Puncak kemarau yang menjadi saksi kegagalan gue pulang kampung memancing otak gue untuk mengomentari lagu Satu Dua Tiga… Ya, masuk akal. Akal gue pastinya. Tukang selingkuh kan gitu, semua semua disayang. Komentar pendek di atas menjadi status twitter gue beberapa waktu lalu. Tepatnya, waktu dua hari gue gak mandi karena ngirit air. Continue reading

Ngeden dan Nguping di Toliet

Suara 1: “Bro, tumben DP BBM kamu pasang foto istri? Seumur-umur gak pernah loh. Lagi kesambet apa emangnya? Atau jangan-jangan modus karena semalam gak dapat jatah?”

Suara 2: “Lagi dimarahin…hahahaha!”

Gue yang tadinya berjuang keras, ngeden mengeluarkan sisa-sisa makanan yang ikutan dikutuk seperti Malin Kundang, seketika gue ngakak geli di dalam bilik kloset–dari pose super jelek jadi pose ganteng biasa. Baru nyadar, kalo terkadang menguping itu bisa menaikkan level kegantengan. Terimakasih kotoran… Continue reading

Kekuatan Visi dan Indonesia Baru

Dalam perjalanan gue menuju Palembang beberapa waktu lalu, menggunakan jasa Lion Air, gue terdiam melihat salah satu halaman majalah yang tersedia, yaitu sebuah artikel tentang Kekuatan Visi. Ketertarikan gue berawal dari kutipan yang mengawali tulisan tersebut.

“Vision without work is day dream, work without vision is a nightmare.” – Japanese Proverb.

Continue reading