Menciptakan Semangat [Kerja] Baru

foto bersama tim merah–penegak aturan. (kalo mau lihat gue, cari aja yang paling ganteng).

Minggu lalu gue mendapat tugas untuk mendatangi salah satu proyek pertambangan di daerah Batu Kajang, Paser Utara, Kalimantan Timur. Lokasi yang harus ditempuh dari darat dan laut selama sekitar 6 jam dari Kota Balikpapan. Dengan bangga, gue berangkat membusungkan dada dan kembali mengenakan seragam proyek beserta atribut wajibnya seperti helm, sepatu keselamatan, dan kacamata, yang biasa disebut Alat Pelindung Diri (APD). Misinya adalah membangun semangat kerja baru untuk mencapai tingkat produktivitas tinggi yang bebas celaka–lebih spesifiknya adalah mencegah kecelakaan tangan dan jari. Tentunya dengan cara dan semangat baru pula.

Di sana, gue mengumpulkan teman-teman teknisi lapangan beserta para pengawasnya, baik yang shift pagi maupun shift malam. Di hadapan mereka gue menyuarakan lantang aturan-aturan yang haram hukumnya jika tidak dipatuhi. Tidak. Gue menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan tidak dengan cara serius yang membosankan sehingga orang-orang harus kentut berulang kali lewat mulutnya. Gue membangun suasana kondusif penuh humor dan tawa menawan, berusaha menyatu dengan sekian banyak teman-teman yang ada di sana dengan cara masuk dalam kendali emosi, kemudian gue membuat satu permainan simulasi kerja yang diikuti oleh 5 orang setiap sesinya untuk menyadarkan mereka akan kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang kerap dipraktikan supaya hal itu tidak diulangi lagi, termasuk mengajak mereka untuk lebih mengenal fisik diri beserta titik kekuatannya. Setelah itu baru gue menyampaikan pesan utama dan segala aturan yang diberlakukan dalam pekerjaan sehari-hari. Sesi pertemuan diakhiri dengan sama-sama gue mengajak seluruh audience untuk mengucapkan kalimat-kalimat positif dengan suara sangat keras hingga berulang kali. Hal yang sama gue lakuin juga kita mengumpulkan para pengawas di ruang meeting. Hari itu, rasanya gue seakan sedang menyamar jadi Mario Teguh. Atau mungkin Mario Teguh yang sedang menyamar jadi gue? Kok malah bikin bingung? Yaudah, pokoknya rambut gue jauh lebih tebal dari Mario Teguh. Continue reading

Sebab [ada] Akibat; Godaan Kemilau Emas

Merujuk ke postingan gue beberapa waktu lalu terkait masalah pertambangan yang ternyata sedikit menimbulkan beberapa pertanyaan dari pembaca, “wah ada apa ini?” Gue coba mengulas kembali hal itu, supaya tidak ada  lagi ‘jurang’ di antara kita, sehingga gue tetap terdaftar sebagai blogger ganteng penyayang anak istri. Iyain aja, gak usah berdebat ntar kalian pada ketularan minus waras. Continue reading

Caper Setinggi Langit

 Scene I

“Mbak, tau alamat ini gak?” *tunjukin catatan*

“Gak tau.”

“Kalo sebenarnya aku mau kenalan sama Mbak, pasti tau dong?”

“BASI!!!”

Scene II

“Mbak, punya gunting?”

“Gak punya.”

“Kalo nomor henpon punya, kan?”

“BASI!!!”

Scene III

“Bapak kamu……”

“DIAAAMMM!!! Bapak aku sudah almarhum. Kalo mau ngegombal basi, sana gombalin sundal bolong sekalian!”

Continue reading

[menolak lupa] Mengawal Konsistensi Jokowi

            Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 21 Agustus lalu sudah jelas. Indonesia telah menyambut datangnya pemimpin baru. Izinkan gue memberi ucapan untuk Negeri tercinta ini, kesekian kalinya. “Selamat Merdeka, Indonesiaku. Merdeka-lah selama-lamanya. Kami bangga terhadapmu, kami bangga menjadi bagian dari kandunganmu.”

            Sebelum dilantiknya Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019, gue ingin menulis pesan untuk beliau berdua, menegaskan lagi masalah pertambangan yang beberapa waktu lalu gue tulis beberapa kali. Masalah yang tak boleh diabaikan oleh pemerintah baru, dan pemerintahan selanjutnya. Sebagai pendukung pasangan nomor 2, gue inget banget sama visi-misi serta rencana kerja beliau berdua. Anggap saja ini catatan gue untuk menolak lupa pada rencana perubahan tersebut.

***

Continue reading

Indahnya Kebersamaan

             Makin hari, makin berat rasanya untuk jauh dari keluarga kecil gue–Istri dan si kecil, Alastair. Perkembangan Al bisa dibilang lebih cepet dari bayi seumuran dia. Berat badannya sudah mencapai 5,2kg, ketika menangis dia seperti orang dewasa sedang galau lengkap dengan tetesan air matanya, suara tawanya ketika main begitu menggemaskan–terkekeh-kekeh, tangan dan kakinya semacam ingin menendang dunia yang penuh hiruk-pikuk politik ini. Continue reading

Indonesia [kaya] Raya

“Selamat ulang tahun, Indonesiaku. Teruslah bangkit, berkibar setinggi langit.”

           Kemeriahan merah-putih merdeka hari ini, cukup mampu menepis kegerahan atas berita ‘sengketa’ yang apeu-banget belakangan ini. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk mempersiapkan Indonesia yang lebih hebat–tentu dengan proses handover maksimal antara pemimpin lama dengan pemimpin masa depan. Bukan dengan keributan ego yang menggelapkan nalar. Pekerjaan kantor yang gak seberapa aja, diwajibkan 1 month notice untuk resignation supaya ada proses handover maksimal ke pekerja pengganti. Apalagi menentukan nasib bangsa ini? Ya, kecuali ada dari mereka-mereka yang menginginkan kemajuan negeri ini gagal! Menyedihkan sekali. Continue reading

Pelajaran di Pojok Pantry

            Gak harus jauh-jauh ke Negeri China untuk mengejar ilmu, kecuali mau belajar bagaimana caranya menduplikasi produk elektronik asli menjadi barang murah pemuas mata belaka. Kita ambil contoh aja ((((KITA)))) di kantor gue; cukup masuk pantry, mendatangi OB pengguna henpon china, bisa dapet ilmu. Semudah membuang angin ketika sendirian di lift.
Continue reading

Tips Membuat Anak dan Orang Tua Tak Begadang

             Seorang ‘Maintenance Superintendent‘ (MS) menyalami gue di depan pantry–yang di depan pintunya terpasang rambu kuning bertuliskan ‘hati-hati licin’. Salaman erat pengantar ucapan Maaf Lahir Batin yang belum sempet terucap akibat jarak dan waktu. Salaman yang berujung pada pertanyaan dan obrolan canda tentang anak. Sebagai sosok yang jauh lebih tua dan berpengalaman untuk urusan rumah tangga, dia menertawakan jawaban-jawaban gue yang menjawab panjang lebar pertanyaan sederhananya.

Continue reading

Mengeruk, Mengolah, dan Memurnikan Masa Depan

           “Saatnya menjadi Tuan di rumah sendiri.” Kalimat yang gue rasa perlu terus dikampanye-galak-kan saat ini, mengingat dunia industri dan pengusaha yang masih saja mencari celah atas Hukum Negara yang dianggap masih lemah.  Padahal anggapan-anggapan seperti itu-lah yang justru membuat Hukum menjadi terkesan lemah, bukan hukum yang memang lemah.

        Mengobrol dengan belasan temen lama, yang dulu sama-sama bekerja di lokasi Newmont Nusa Tenggara, membuka foto-foto lama waktu bekerja di tambang Nikel, Soroako Sulawesi Selatan, tersentuh oleh berita-berita, membuat gue pengen ikut berbicara atas pemberitaan ketegangan antara Pemerintah dan penggiat usaha pertambangan belakangan ini. Lebih tepatnya ketegangan atas ditegaskannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. *lurusin punggung, kretekin jari jemari* Continue reading