Titik Pertama; Terimakasih Cinta

“Pernikahan bukanlah sebuah tujuan, melainkan awal dari suatu perjalanan panjang.” Untuk itulah kenapa hati teliti mencari bagiannya untuk menuju akhir waktu penuh cinta nan bahagia. Untuk itulah kenapa dua jiwa menyatukan komitmen untuk saling menggenggam, saling menunjukkan jalan agar tak tersesat. Untuk itulah kenapa perjuangan semakin dibutuhkan, biar lidah tak mudah mengucapkan kata lelah yang menimbulkan keeratan cinta kasih menjadi lemah. Continue reading

[Elia] Bintang, Pantai, Kupu-Kupu, dan Kebebasan

D'Fest Kemang

Beberapa waktu lalu ada urusan kerjaan di Jakarta, terus malamnya nongkrong sama Kipo, Thomas, Lea, dan Elia Bintang. Kami adalah orang-orang yang selalu menyeret cerita lalu untuk ditertawakan, bahkan di-anjing-kan dengan hentakan kaki ke lantai disertai tepukan telapak tangan ke paha masing-masing.

Mereka adalah seniman-seniman gila, kalo menurut gue. Terlalu asik untuk tidak diceritakan. Eits. Gak melulu ngomongin masa lalu, kok. Sebab mereka selalu membawa kabar gembira dan keberhasilan baru di setiap pertemuan, bercerita. Masa lalu, masa kekinian, masa depan, semua dibicarain. Gak pernah cukup waktu untuk menghabiskan cerita bersama mereka. Continue reading

Penga[la]man Pasangan Muda

“Ngapain kamu beli kondom segala, Zia?” Tanya Ibu mertua dengan nada tinggi disertai pelototan mata yang mengeluarkan sejuta tanda tanya, ketika gue menginap di sana kemarin.

Ibu mertua terkaget-kaget saat gue mengeluarkan sejumlah uang recehan dari dompet berumur empat tahun, untuk membayar satu kotak ‘pengaman’ isi dua belas di apotek miliknya. Lebih kagetnya lagi, pengaman tersebut sudah gue ambil malam-nya, gak bilang-bilang. Yaiyalah, Ibu Mertuanya udah tidur kok. Hehehe… Continue reading

Menciptakan Semangat [Kerja] Baru

foto bersama tim merah–penegak aturan. (kalo mau lihat gue, cari aja yang paling ganteng).

Minggu lalu gue mendapat tugas untuk mendatangi salah satu proyek pertambangan di daerah Batu Kajang, Paser Utara, Kalimantan Timur. Lokasi yang harus ditempuh dari darat dan laut selama sekitar 6 jam dari Kota Balikpapan. Dengan bangga, gue berangkat membusungkan dada dan kembali mengenakan seragam proyek beserta atribut wajibnya seperti helm, sepatu keselamatan, dan kacamata, yang biasa disebut Alat Pelindung Diri (APD). Misinya adalah membangun semangat kerja baru untuk mencapai tingkat produktivitas tinggi yang bebas celaka–lebih spesifiknya adalah mencegah kecelakaan tangan dan jari. Tentunya dengan cara dan semangat baru pula.

Di sana, gue mengumpulkan teman-teman teknisi lapangan beserta para pengawasnya, baik yang shift pagi maupun shift malam. Di hadapan mereka gue menyuarakan lantang aturan-aturan yang haram hukumnya jika tidak dipatuhi. Tidak. Gue menyampaikan hal-hal yang perlu disampaikan tidak dengan cara serius yang membosankan sehingga orang-orang harus kentut berulang kali lewat mulutnya. Gue membangun suasana kondusif penuh humor dan tawa menawan, berusaha menyatu dengan sekian banyak teman-teman yang ada di sana dengan cara masuk dalam kendali emosi, kemudian gue membuat satu permainan simulasi kerja yang diikuti oleh 5 orang setiap sesinya untuk menyadarkan mereka akan kebiasaan-kebiasaan tidak baik yang kerap dipraktikan supaya hal itu tidak diulangi lagi, termasuk mengajak mereka untuk lebih mengenal fisik diri beserta titik kekuatannya. Setelah itu baru gue menyampaikan pesan utama dan segala aturan yang diberlakukan dalam pekerjaan sehari-hari. Sesi pertemuan diakhiri dengan sama-sama gue mengajak seluruh audience untuk mengucapkan kalimat-kalimat positif dengan suara sangat keras hingga berulang kali. Hal yang sama gue lakuin juga kita mengumpulkan para pengawas di ruang meeting. Hari itu, rasanya gue seakan sedang menyamar jadi Mario Teguh. Atau mungkin Mario Teguh yang sedang menyamar jadi gue? Kok malah bikin bingung? Yaudah, pokoknya rambut gue jauh lebih tebal dari Mario Teguh. Continue reading

Sebab [ada] Akibat; Godaan Kemilau Emas

Merujuk ke postingan gue beberapa waktu lalu terkait masalah pertambangan yang ternyata sedikit menimbulkan beberapa pertanyaan dari pembaca, “wah ada apa ini?” Gue coba mengulas kembali hal itu, supaya tidak ada  lagi ‘jurang’ di antara kita, sehingga gue tetap terdaftar sebagai blogger ganteng penyayang anak istri. Iyain aja, gak usah berdebat ntar kalian pada ketularan minus waras. Continue reading

Caper Setinggi Langit

 Scene I

“Mbak, tau alamat ini gak?” *tunjukin catatan*

“Gak tau.”

“Kalo sebenarnya aku mau kenalan sama Mbak, pasti tau dong?”

“BASI!!!”

Scene II

“Mbak, punya gunting?”

“Gak punya.”

“Kalo nomor henpon punya, kan?”

“BASI!!!”

Scene III

“Bapak kamu……”

“DIAAAMMM!!! Bapak aku sudah almarhum. Kalo mau ngegombal basi, sana gombalin sundal bolong sekalian!”

Continue reading

[menolak lupa] Mengawal Konsistensi Jokowi

            Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 21 Agustus lalu sudah jelas. Indonesia telah menyambut datangnya pemimpin baru. Izinkan gue memberi ucapan untuk Negeri tercinta ini, kesekian kalinya. “Selamat Merdeka, Indonesiaku. Merdeka-lah selama-lamanya. Kami bangga terhadapmu, kami bangga menjadi bagian dari kandunganmu.”

            Sebelum dilantiknya Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019, gue ingin menulis pesan untuk beliau berdua, menegaskan lagi masalah pertambangan yang beberapa waktu lalu gue tulis beberapa kali. Masalah yang tak boleh diabaikan oleh pemerintah baru, dan pemerintahan selanjutnya. Sebagai pendukung pasangan nomor 2, gue inget banget sama visi-misi serta rencana kerja beliau berdua. Anggap saja ini catatan gue untuk menolak lupa pada rencana perubahan tersebut.

***

Continue reading