Mimpi Bukan Sekedar Bunga Tidur

Katanya, persiapan tidur dan mimpi itu sangat erat kaitannya, terutama soal berdo’a. “Kalo gak berdo’a bakal sering mimpi gak mengenakan,” katanya. Ada benernya juga, pas gue ngelamun jorok sebelum tidur (ini cerita masa bujang dulu, tolong dicatet ya, guys)  mimpinya ehm bakal jadi ehm basah, atau minimal bakal mimpi ketjup klomoh sekalipun dengan sosok yang gak begitu jelas (paling kesel sama mimpi yang adegannya gak bisa dibawa ingatan sadar begini, kan lumayan buat diinget-inget besoknya).

Mungkin bisa dikatakan, mimpi itu akumulasi dari pikiran-pikiran yang bablas tertanam di alam bawah sadar. Mungkin. Gue gak tau persis. Soalnya ketika ada hal aneh yang terjadi dalam mimpi, cara kita ((((KITAAAA????)))) melawannya adalah tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan atau ajaran-ajaran dalam kehidupan nyata (tolong jangan tidur dulu, cerita gue belom kelar nih. Harap maklum kalo ceritanya udah 117 kata tapi belum bisa dimengerti).  Salah satu contoh adalah mimpi menyeramkan yang baru aja gue alami.

Lanjut baca

Channel Penuh Kode dan Tanda Tanya [???]

Jaman SMP kakek (udah) punya parabola, dengan pilihan banyak channel. Awal-awal punya Parabola gue suka tidur di tempat kakek, kadang nonton sampe larut malam (sorean tidur, pas kakek tidur bangun dan nonton).

Tontonan tengah malem, suka ngedapetin acara goyang pantai MTV dan pernah menemukan film bertelanjang dada (sepintas lalu) di TV5, channel perancis kalo gak salah inget. Lanjut baca

Maaf yang tak pernah usai

gambar dari: arrahmah.com

gambar dari: arrahmah.com

Sore itu gelap datang lebih awal, oleh awan yang terlalu betah berkumpul mengepul, hitam. Fasilitas listrik di kampung kami belum bersahabat dengan siang, hanya ada dan nyala di malam hari saja. Pun malam, tingkat keseringan mati lampu melebihi seringnya Farhat Abbas membuat sensasi. Pemerintahan jaman orde baru kala itu belum terlalu peduli akan nasib terang kami. Wajar rumah kami kelam. eh, memang rumah kami dan sebagian besar warga kampung belum terpasang listrik waktu itu hehe.

Gue disuruh emak ke warung beli minyak tanah untuk digunakan sebagai bahan bakar lampu sumbu, jenis penerang satu-satunya yang mampu kami miliki. Kala itu minyak tanah hanya digunakan untuk lampu sumbu saja, di kampung kami belum mengenal yang namanya kompor, kalau memamasak ya pakai kayu bakar.

Rumah minim penerangan, penuh kebulan asap dapur, juga jelaga di setiap titik lampu sumbu, membuat kesuraman rumah kami semakin gelap jelata. Gue juga heran kenapa pola hidup lampau dianggap lebih sehat ketimbang jaman canggih saat ini, sementara saat itu gue menjadi bagian yang merasakan keseharian penuh asap hasil pembakaran yang sangat gak sehat. Kalo ngomong emisi, karbon hitam yang dihasilkan lampu sumbu minyak tanah juga sangat berpengaruh terhadap pencemaran. Apa-apa dibakar, apa-apa menghasilkan asap. Dan, tetap gelap. Lanjut baca

Berburu Ubi Lembek

ubi 1Ubi jalar, salah satu makanan hasil bumi kesukaan gue. Mau direbus, dibakar, digoreng, segala bentuk olahan makanan ubi gue suka. Oh, sensasi suka ngentut habis-kebanyakan-makan-ubi-nya gue juga suka. hehe.

ehm. Bahkan dulu itu gue suka makan ubi mentah. Kadang yang baru habis dipanen, masih basah, tinggal kupas kulitnya, gue makan. Kadang juga diiris tipis-tipis, dikeringkan, dimakan juga, rasanya kek makan tepung mentah. Gak enak sih, tapi kebiasaan. Dampak mencretnya juga luar biasa. Mau cobain, tuan dan nyonya? Lanjut baca

[jangan] menuntut ilmu sampai ke[negeri]cincang

Seorang Zia Ulhaq kecil sangat haus akan belajar sesuatu yang baru, punya rasa penasaran yang tinggi, namun punya proses pertimbangan yang sangat dangkal. Asal ada kaitannya dengan bacaan arab, atau sedikit ada kaitannya dengan ibadah, dipelajari, dicoba. Zia Ulhaq kecil belum bisa memilah mana yang haq dan mana yang bathil, belum terlalu bisa membedakan mana sesat mana kebenaran. Palingan bisanya membedakan mana tai ayam anget, mana tai kambing bulat-bulat, dan mana tai lalat si manis temen (cewek) mengaji. Lanjut baca

[PUISI] Rela Berubah

Jiwa seni melekat di diri gue sejak kecil, entah turunan dari siapa. Bokap sukanya memelihara hewan dan berkebun, nyokap sukanya pasrah sama keadaan, gak jelas apa sebenarnya kegemaran beliau. Akhirnya gue gak pernah mendapat dukungan atas bakat yang gue miliki. Kalo gue memaksakan diri untuk cari perhatian, menunjukkan bakat tertentu, ujung-ujungnya dicap aneh, dikira punya bakat gila, dan anggapan-anggapan negatif lainnya. huft.

Sudut pandang dan cara berpikir keluarga kami gak beda jauh dengan cara berpikir orang-orang di kampung kami kebanyakan; anak yang dibanggakan adalah anak yang dikenal pinter di sekolahan sekaligus punya fisik kuat dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan membantu orang tua, bahkan bertani. Kalo dikenal pinter bisa-lah gue paksakan untuk belajar mati-matian. Tapi, kalo fisik kuat, jangan harap terjadi di gue. Apalagi di umur belia, masih ingusan, masih berseragam putih merah hati.

Ringkih, gampang sakit, ngentutan, jago ngeles untuk bebas tugas kerja fisik, lihai nyolong duit bokap, cengeng, baru gue jagonya. Kalo hal beginian mah, gue berani dijadikan peserta lomba hingga kelas internesyenel. Lanjut baca

HOT: Horse on Top! (benhur)

Eits. Jangan berpikir jorok dulu. Mentang-mentang gue sering nulis mesum, jangan serta merta menganggap gue akan ngebahas film bokep genre animal sex. Itu mah film aneh. Ngebayangin cewek telanjang di bawah kuda berkelamin jumbo aduhai aja udah malesin. Lagian, apa enaknya sih bagi cewek pembokep bercinta sama binatang, khususnya kuda? Mendesah gak bisa, apalagi desahan berbumbu oh yes…oh no…f**k me! Sensasi dosanya nanggung. *lah ini kok malah ngebahas?!*

Gue mau ngebahas soal ‘benhur’. Bukan film Ben-Hur (hollywood) yang dirilis tahun 1959 itu, melainkan alat transportasi tradisional yang sangat terkenal di kampung gue. Kalo di lombok namanya Cidomo. Atau kendaraan kuda yang lebih dikenal dengan istilah dokar. Perbedaannya ada pada roda dan bentuk fisik, kalo ‘benhur’ menggunakan ban mobil kecil dan struktur bodinya lebih sederhana dan kuda yang narik cenderung kecil. Lanjut baca