Merancang Masa Depan dengan Samsung Galaxy Note Edge

 

Masa depan bukan untuk dinanti, tetapi dibangun, saat ini.” Kira-kira begitu kata orang bijak kebanyakan. Dan, saya percaya itu. Katakan saat ini saya ingin memiliki Samsung Galaxy Note Edge, di beberapa waktu ke depan yang juga disebut masa depan, maka saya membangun masa depan itu dari sini, saat ini, lewat halaman blog ini. Bukan sekadar memilikinya, melainkan merancang apa-apa saja yang akan saya lakukan dengan kecanggihannya.  Sekaligus saya ingin menghilangkan kebiasaan buruk–mengupil di sembarang tempat dengan sembarang cara. Saya gak ingin barang bagus seperti S-pen jadi korban kesembronoan saya, menyasar di hidung. Continue reading

Folder Lama; Mendadak Asing

New Project.” begitu judul folder yang saya bikin hampir setahun lalu. Ada sekitar dua puluh lima file word di dalamnya, dilengkapi gambar sampul ala kadarnya–hasil karya sendiri sebagai penyemangat mengisi lembaran demi lembaran dengan tulisan. Folder tersebut tak lain adalah rencana naskah yang pengin saya kelarin persis ketika anak saya lahir, waktu itu. Continue reading

Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

“Alam semesta adalah gudang kekayaan yang tak ada habisnya. Bahan asal merupakan sesuatu yang hidup dengan energi kreatif dan secara konstan ia menghasilkan benda-benda lebih banyak lagi. Bila persediaan bahan bangunan habis, persediaan lebih banyak akan dihasilkan lagi. Bila persediaan tanah habis hingga bahan makanan dan pakaian tak bisa ditumbuhkan lagi di atasnya, ia akan diperbarui atau akan ada tanah baru lagi diciptakan. Bila semua emas dan perak telah tergali dari perut bumi, dan peradaban manusia masih membutuhkan emas dan perak, maka akan diciptakan lebih banyak lagi emas dan perak dari bahan asal tersebut. Substansi tak berbentuk ini merespons kebutuhan manusia; ia tidak akan membiarkan manusia hidup tanpa benda-benda yang layak.” – Wallace D. Wattles, dalam buku-nya Science of Getting Rich, Bab ‘Apakah Kesempatan itu Dimonopoli?’

Continue reading

Putra Alendra

Waktu menunjukkan pukul 3.30 sore di minggu yang cerah, kami bertiga bergegas untuk memenuhi janji–mendatangi Mbak Fatimah, sosok wanita berusia setahun di atas saya, yang baru saja melahirkan anak keenamnya, Jumat lalu. Dia pernah membantu kami di rumah, menjaga Baby Al selama kami bekerja.

Continue reading

Lelaki Muda dan, Mimpinya

“Untuk mendapatkan tanda tangan di halaman depan laporan skripsi, berulang kali harus merasakan dunia terjungkir-balik. Terus berkejaran dengan waktu yang hampir mencapai garis finish–‘harus kekejar harus kekejar harus kekejar’, hanya kata itu yang tersisa di kepala. Sampai-sampai kebutuhan pokok seperti makan dan tidur kerap terlupakan. Lelah? Tentu tidak. Bagiku lelah itu mendekati kalah. Hanya capek dan deg-deg-ser sedap. Tapi, semua itu terbayar lunas dengan terisinya kolom tanda tangan dosen-dosen dan dekan fakultas tercinta, di Jumat penuh berkah, menjelang penghujung Februari.” Kira-kira begitu luapan perasaan lekaki muda itu, ketika memamerkan pencapaiannya di halaman facebooknya dua hari lalu. Lelaki muda yang akan yudisium tiga hari mendatang, di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.

Yah, urusan skripsi memang demikian, butuh perjuangan berpeluh keringat. Continue reading

Peran Ibu Yang Tak Bisa Tergantikan Oleh Bapak

“Seorang ibu mengalami luka berdarah-darah, demi tumbuh kembang anaknya, berharap sang anak tak mengalami kekuarangan sedikit pun kasih sayang. Luka berdarah-darah yang terjadi akibat perbuatan anaknya sendiri itu, tidak mengurangi cintanya kepada sang anak yang tetap dan selalu disayang sepanjang jalan sepanjang jaman.” Berita ini saya saksikan, dan saya liput sendiri–di rumah. Kejadian yang ngeri-ngeri sedap tersebut terjadi persis setelah Baby Al, yang adalah anak kecintaan kami, mengalami perkembangan tumbuh gigi–dua gigi bagian bawah, telah menorehkan luka di puting ibu-nya. Maka kami memanggilnya, my little zombie dua gigi! Continue reading

Ge(mer)lapnya Dunia Pertambangan Indonesia

“Saya tuh kaget, Mas, tahu kondisi begitu banyaknya perusahaan pertambangan di Indonesia yang tidak bertanggungjawab. Tadi sebelum berangkat ke sini, saya sempat baca koran yang isinya; dari tiga ribu delapan ratusan izin usaha pertambangan yang dikeluarkan di daerah Kalimantan, hanya dua ratus sepuluh pemegang IUP yang membayar jaminan raklamasi. Sisanya, yang tiga ribu enam ratusan itu, ya entah ke mana. Ngeri, Mas.” Ujar Manajer (head office) saya ketika ketemu dan mengobrol dengan beliau akhir November 2014 lalu, di Palembang.

Saya pun ikutan syok mendengar itu. Betapa banyaknya pembiaran yang selama ini terjadi. “Koran apa, Pak? Edisi hari ini? Saya penasaran pengin membaca keseluruhan isinya.” Tanya saya penuh semangat, sembari iseng keingetan kalau ketiak belum tersentuh deodoran. Continue reading

100 Hari yang Melelahkan (?)

Seratus hari, waktu yang tidak terlalu singkat juga tidak terlalu panjang. Tergantung dari sisi mana mata melihat sudut pandangnya. Saat-saat ini, ketika kalimat seratus hari muncul di media, dengan mudah orang menangkap maksud di baliknya, sebelum membaca detail isinya. Ya, masa kerja Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla beserta para jajaran Pemerintah yang bekerja di bawah kabinetnya.

Kenapa hari yang melelahkan? Continue reading

3M Plus Minus

Salah satu radio swasta sedang memutar lagu All About That Bass,  persis ketika gue mengalami kemacetan menuju kantor. Kemudian diikuti dengan iklan layanan masyarakat tentang pencegahan penyakit demam berdarah.

“Lakukan 3M… Menguras, Menutup, Mengubur.” Begitu mendengar kalimat tersebut, otak gue berputar jauh ke arah yang tak terkontrol. Bukan tempat air, bukan bak mandi, dan bukan kaleng-kaleng bekas yang muncul di kepala gue, melainkan…. mereka yang putus cinta! Heuh…

Ya. Menurut gue para penggalau yang mengalami putus cinta, rata-rata salah dalam menerapkan pesan layanan masyarakat tentang 3M.

Menguras.

Menguras air mata, hingga dengan sengaja lupa makan lupa tidur. Bahkan lupa kalo pakaian dalam yang dikenakan udah berminggu-minggu gak diganti. Helloooo….

Menutup.

Menutup jendela, menutup pintu kamar, hingga menutup hati. Mau dinasehatin seperti apapun, susah—masuk telinga kanan, keluar lewat anus bersama kotoran. Senengnya menyiksa diri. Helloooo….

Mengubur.

Mengubur harapan-harapan yang sudah sekian lama dibangun susah payah, “yah, menikmati kesendirian dulu lah.” Begitu cara mereka menghibur diri sekaligus menyiksa diri terus menerus. Helloooo…. Continue reading

Lingkungan Indonesia, Tanggungjawab Kita

“Saya menerima jasa pembuatan AMDAL untuk perusahaan, jika ada yang membutuhkan silahkan untuk menghubungi saya, harga bisa diatur.” Ujar salah seorang pengajar, waktu gue mengikuti pelatihan dan sertifikasi Ahli K3 (kesehatan dan keselamatan kerja). Seketika gue meletakkan pulpen yang ujung kepalanya sempat hinggap di antara gigi atas dan gigi bawah–melongo!

Dia bukanlah seorang pengusaha, yang memiliki perusahaan jasa konsultan untuk menangani masalah pengelolaan lingkungan secara profesional dan lain sebagainya. Bukan juga bukan pegawai perusahaan konsultan. Dia seorang pengajar paruh waktu, yang mengambil kerjaan-kerjaan apa saja yang di bisa secara paruh waktu, freelance, membantu perusahaan-perusahaan yang membutuhkan. Tepatnya, perusahaan yang membutuhkan cara cepat, walau dengan proses tak tepat. Heuh! Continue reading