Pertamina Kekinian

Gambar Dari Sini

Pagi sedang cantik-cantiknya dihiasi keramahan mentari tanpa amarah panas menyambut kota dan kita dengan kata yang tak terdengar, saya meninggalkan rumah bersama anak dan istri—sekadar menikmati udara segar yang masuk lewat jendela mobil yang sengaja dibiarkan terbuka setelah AC dimatikan. Perjalanan belum sampai satu kilometer, muncul keinginan membeli sosis bakar yang biasa dijual di lapangan Merdeka setiap akhir pekan—saya memutar mobil dari kilometer nol Balikpapan menuju jalan minyak, berniat tembus pelabuhan Semayang yang berdekatan dengan lapangan keramaian yang dituju. Baru memasuki ujung jalan minyak, security sudah menghadang dengan palang yang entah mulai kapan dibentangkan. “Mas, belok kiri, Mas, masuk gang sono,” kata tangan kanan security yang menghadap ke arah saya,  dengan gerakan pelan namun pasti seperti boneka kucing di toko-toko orang china. Sayapun tak menepis arahannya, masuk ke arah lapangan Persiba yang mulai sepi karena adanya stadion baru. Setelah melewati lapangan, dua orang security mengarahkan kami untuk belok kanan. “Woi, buruan woi! Lo pikir berdiri macam begini gak capek apa? Buruan belok kanan dan jangan kembali lagi ke sini,” kata tangan kiri security berkumis aneh yang saya terjemahin secara ngawur. Saya terus jalan, hingga akhirnya keluar ke jalan jalur kilometer nol lagi. Ahelah, capek-capek muter kembali ke asal juga. Continue reading

Pahala: Pacaran Halal Asik

“Hai, terimakasih untuk waktu dan keseruan malam minggunya,” kataku setelah lampu indikator parking brake mobil dalam kondisi aktif, di depan rumah. “Dan terimakasih telah menganggapku pantas menjadi teman hidupmu.” Aku memegang tangannya, sedikit menariknya ke arahku, lalu… ah, aku malu untuk menceritakan secara rinci–betapa ciuman di mobil itu begitu hangat dan begitu muda. Rasanya seperti sepasang kekasih yang belum menikah, yang mana ciuman intim itu langka adanya. Semacam ada perasaan deg-degan takut kepergok orang tuanya.  Continue reading

Tips Hemat Air

Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk (hampir) selalu tinggal di daerah yang ketersediaan air bersihnya tidak berlebihan. Sehingga saya punya kelebihan untuk tidak risih jika tidak mandi, cukup berdamai dengan bau badan, biasa saja dengan rasa gatal, dan yang paling penting bisa mandi keramas hanya dengan air satu ember. Lebih pentingnya lagi, saya bisa ngeles seperti ini. Continue reading

Bekerja Dengan Cinta

Waktu ikut team building di bogor minggu lalu, saya membawa salinan beberapa tulisan Kahlil Gibran yang kesemuanya saya ambil dari bukunya yang berjudul Sang Nabi. Salah satunya adalah tulisan tentang kerja, saya menyebutnya bekerja dengan cinta. Dan, di acara malam, saya meminta tiga orang teman cewek untuk membaca tulisan tersebut–sebagai bagian dari musikalisasi puisi. Gak biasanya acara kantor kami ada pepuisiannya begitu. Tiga cewek yang saya maksud membacakan satu tulisan secara bersambung, dan saya terkejut merinding mendengar cara mereka berpuisi. Katanya gak pernah membaca puisi sebelumnya, sekalinya membaca–saya merasa seperti lagi menonton Dian Sastro sedang syuting film Ada Apa Dengan Cinta. Tulisan yang saya baca berulang dengan sunyi maupun dengan suara tersebut semakin melekat di kepala dan hati dan jiwa saya, begitu indah begitu menggairahkan. Teman-teman yang lain yang mendengarkan mendadak senyap, semua orang menikmati. Cinta memang selalu luar biasa tanpa mengenal ruang dan waktu. Tsah. Continue reading

Menari di Bawah Derasnya Hujan

Saya benci sekali mendapat nasehat yang tidak seharusnya saya dengar, hanya terpaksa mendengar karena berstatus orang baru di Kalimantan. “Kamu jangan mandi hujan, di sini hujannya beda dengan di Jawa dan pulau lainnya. Hujan kalimantan mudah bikin sakit dan melemahkan tulang dan gigi,” kata seorang bapak-bapak ke saya lima tahun lalu. Selang beberapa bulan kemudian, seseorang yang lain menasehati hal serupa. Setelah itu ada lagi, sampai sempat menempel di kepala saya untuk berusaha menghindari hujan Kalimantan. Continue reading

Alastair dan Jam Tidurnya

Salah satu momen intim dengan anak adalah bersamanya satu bantal, menemaninya hingga tertidur lelap. Ada sentuhan hampir seluruh panca indera yang terlibat, dan saya suka sekali memegang telapak tangannya–saya selalu merasa ada energi terlembut yang ditransfer ke saya. Sentuhan telapak tangan ini hanya bisa saya lakukan lama ketika dia tidur, saat terjaga sulit untuk saya melakukannya. Bisa dipastikan tangan saya dihempas, mungkin dia risih. Atau mungkin dalam hatinya Alastair berkata, “emang gue cowok apaan, pegang-pegangan tangan lama-lama sesama cowok?” Continue reading

Amazing Seller Yang Bikin Garuk Kepala

Teringat pesan ibu sewaktu saya masih kecil, “Jangan berlama-lama di depan cermin, tidak baik. Dan, jangan sering-sering bercermin, juga tidak baik.” Sisi tidak baiknya tidak pernah dijelaskan lebih lanjut hingga saya berperut buncit seperti yang tidak kalian lihat ini. Mungkin nasihat itu sama membingungkannya dengan peringatan kalau sering foto-foto akan mengurangi umur. Hingga akhirnya saya menyadari sendiri kenapa bercermin lama-lama itu tidak baik, ternyata karena membuat kita bikin bingung diri sendiri. Continue reading

Puasa Media Sosial

Setelah delapan tahun berkutat di dunia media sosial, akhirnya saya bisa tidak bergantung lagi dengan keasikannya. Jujur, delapan tahun saya tidak melepaskan diri seharipun dengan media sosial meskipun saat berada di hutan yang susah sinyal sekian tahun silam. Waktu itu, saya bela-belain jalan kaki ke tanah lapang yang memunculkan seberkas cahaya harapan adanya sedikit sinyal demi bermedia sosial ria. Dari zamannya Friendster, Plurk, terus pindah ke Facebook, Twitter, Instagram, Path dan lainnya. Continue reading