1 Dekade Blog Zulhaq

Sudah begitu panjang cerita dan perjalanan hidup yang dijejaki di blog ini, sudah mencapai angka sepuluh tahun. Masih satu bulan lagi sih, tapi sudah gak sabar pengin menulis sesuatu tentang perjalanan ini.

Begitu banyak perubahan yang terjadi di perjalanan saya merawat blog, dari kesulitan penuh usaha juang hingga di kemudahan memanjakan saat ini, seringkali menjadi jebakan kemalasan.

2009 silam, mau terhubung ke internet begitu sulitnya, terutama bagi saya yang bekerja di lokasi tambang, hutan gitu lah. Di kantor tidak ada fasilitas internet, kecuali untuk manager. Beruntungnya ada sobat fakir-net yang memainkan kelincahn proxy-nya untuk membobol akses internet, berhasil. Ketahuan IT, diblok lagi, bobol lagi, ketahuan lagi, diblok lagi, bobol lagi. Sungguh keterlaluan kami saat itu.

Lalu pada suatu hari, muncul lah kabar bahwa di mini bar mess tambang ada fasilitas wifi, kami berbondong-bondong ke sana. Meski hampir gak pernah beli minuman, hampir setiap hari kami ke sana–tentu setelah mampu beli laptop pribadi. Tapi lama kelamaan bosan juga, dihajar nyamuk dan kedinginan. Kalau gak beli minum, duduknya di rerumputan bukan di meja yang beradab. Malu lah!

Akhirnya beralih ke LAN. IT perusahaan pemilik tambang bekerjasama dengan perusahaan penunjang telekomunikasi, menyedialan koneksi internet di kamar mess. Yang penting bayar bulanan, dengan sistem potong gaji. Lama kelamaan kami merasa rugi pula, karena waktu di kamar sangat sedikit kecuali hari libur. Belum kepotong tidur yang harus mencukupi. Sampai akhirnya muncul lah musim modem, paling terkenal saat itu huawei, terus pakai kartu telkomsel dengan paket data bulanan yang ala kadarnya jika dibandingkan dengan kelimpahan paket data murah zaman now.

Semua itu dilakukan demi memenuhi hasrat ngeblog, kegiatan paling utama ngenet tuh. Kebetulan saya gak ngaskus dan lainnya waktu itu. Media sosial pun paling rajin di friendster sebelum ia hilang ditelan kemajuan. Lalu mulai menjajaki facebook, tapi pasiflah, cenderungnya merusuh di kolom komentar. Plurk juga gak begitu aktif, kesel ngejar dan menjaga poin. Selain menulis di blog, saat itu saya rajin menulis di halaman ngerumpi. Blogwalking, merusuh sana sini, tak terhitung setiap harinya. Rajiiin, pokoknya. Oh ya, saya tidak punya akun twitter 10 tahun lalu. 2010 saya baru mulai melirik twitter.

Belakangan, blog semakin kerap ditinggalkan. Diisipun kalau ingat. Sampai akhirnya minggu ini saya memantapkan hati kembali ke awal di mana saya memulai semuanya, yaitu blog tercinta ini.

Twitter, facebook, Instagram sudah saya deaktivasi, saya tidak diketemukan lagi di sana. Kabar lebih baiknya, saya lebih mudah dan sering ditemukan di sini, halaman yang lebih pribadi.

Hal paling besar yang saya dapatkan dari kegiatan ngeblog adalah: keluar dari kungkungan ketakutan dan keminderan hidup yang sangat menantang untuk diperjuangkan ini.

Blog membawa saya dari manusia yang rendah diri menjadi sangat percaya diri. Blog membawa saya dari manusia yang malas belajar menjadi doyan membaca dan mencoba banyak hal untuk kemajuan. Blog telah membawa saya dari manusia takut bicara menjadi orang yang begitu cerewet. Kemajuan karir saya, justru banyak berkembang dari blog, tepatnya saya banyak belajar dari orang-orang yang saya kenal dari blog. Itu yang membuat saya kembali ke permulaan saya, di sini, sekaligus sebagai pengingat untuk saya tidak menjadi orang yang lupa diri.

Semangat!

Belajar Banyak Dari Anak

Dulunya Alastair–anak saya–tidak begitu suka dengan mainan. Sampai saya dan istri merasa aneh. Bukan saja tidak doyan meminta dibelikan mainan baru, mainin mainan sepupunya pun tidak bergairah.

Ia lebih suka main kontak fisik, dengan saya, mamanya, neneknya, dan siapa saja yang ada di rumah.

Pernah mamanya membeli mainan ini itu dari toko online, tapi ya berujung dianggurin. Berdebu, kesepian, hingga mainan tersebut berpindah tangan secara gratis ke orang lain yang membutuhkan.

Sekarang? Sungguh dunia terbalik belaka. Minta beli mainan bisa setiap hari, bisa tiga kali sehari, bisa seminggu beberapa kali. Random. Tapi sering.

Saya merenung dan mencoba menelaah apa yang menyebabkan perubahan signifikan itu terjadi, lalu saya mendapat jawaban yang mendekati pasti.

Alastair suka mengoleksi mainan, suka larut dalam dunia mainan di banyak waktu adalah semenjak tahun lalu, tahun di mana neneknya yang bersama dia setiap hari meninggal dunia. Dengan neneknya, bukan saja main kontak fisik di rumah, tetapi bisa main dan berkeliling ke mana saja;

Naik angkot. Main ke pasar. Jalan keliling kampung dengan sepeda dorong. Menelusuri jalanan protokol. Nongkrong di lampu merah menghitung angkot warna Tayo dan kawan-kawan. Merapikan rumah. Main air di kamar mandi. Kecipak-cipuk di kolam renang angin di samping rumah. Pergi ke rumah keluarga.

Sungguh banyak kesenangan sederhana di atas hilang dari rutinitasnya, hilang bersama neneknya yang teramat kami cintai.

Saya dan istri sangat sadar, kasih sayang dan pengorbanan neneknya begitu besar, waktunya untuk Alastair begitu banyak, sedangkan kami (saya terutama) belum mampu melakukan semua yang dilakukan neneknya itu untuk Alastair. Setiap mengingat ini, kesedihan dalam hati saya berlipat ganda. Sedih karena nenek begitu cepat meninggalkan kami semua, sedih karena Alastair kurang maksimal kami layani.

Setiap huruf dalam tulisan ini adalah ajaran Alastair pada saya, tentu pada istri saya juga, tentang kerinduan mendalam yang menerbangkan ingatan ke masa lalu dengan kalimat “seharusnya aku bersyukur berjuta-juta kali lipat waktu itu, waktu neneknya Alastair yang kami panggil Mbah masih hidup bersama gunung cinta kasihnya.”

Saya memang pandai berorganisasi, mengelola masalah sekaligus solusi pekerjaan, mengatur banyak orang di luaran sana, namun kehebatan di luaran sana tiada begitu berarti karena kehebatan di rumah belum bisa saya meneladani Mbahnya Alastair.

Betapa rindu yang diajarkan Alastair ini mengalirkan air mata merambahi pipi mendiamkan kata-kata di mulut. Saya tahu Alastair rindu dengan Mbahnya, meski yang di dalam pikirannya hanya merasa kehilangan rutinitas. Kalau saja usianya sudah cukup paham dengan semua ini, dia pasti tidak begitu peduli dengan rutinitas, melainkan rindu dengan Mbahnya dengan segala hormat dan kecintaan yang medalam.

Saya hanya mampu membelikan Alastair mainan sesering yang dia mau, tetapi tidak mampu bermain bersama sesering yang dia mau. Saya mampu membawanya pergi jauh melintasi pulau dan angkasa, tetapi tidak mampu membawanya pergi dalam waktu yang terlalu sering meski dengan cara yang teramat sederhana.

Istriku lebih lebih lebih lah sedihnya, sebab Mbah adalah ibunya yang teramat sangat ia cintai kasihi sayangi dengan segenap dunia, jiwa raga, bahkan nyawanya. Di sini aku semakin merasa tiada daya, karena dua orang terpenting dalam hidupku harus kehilangan orang yang sangat penting dari hidup mereka, yakni Mbah.

Sekarang kuhanya terus menghibur diri, bahwa semua terjadi atas Kehendak Tuhan yang sempurna.

Digitalization – 2019

Mayoritas proses bisnis saat ini menggunakan sistem digital, tak terkecuali bisnis pertambangan yang berada di lokasi susah sinyal. Unik memang, namun kenyataannya demikian.

Perusahaan layanan servis pertambangan tempat saya bekerja juga tak mau ketinggalan, sebab dengan sistem digitalisasi berhasil meng-efisiensi-kan banyak proses, yang membawa hasil penggandaan produktivitas.

Semua orang di setiap level di proyek yang sudah menggunakan sistem digital diajak mengubah mindset dari konvensional ke digital. Tak sedikit yang butuh waktu lama dan upaya keras untuk bisa mengimbangi modernisasi tersebut. Saya berpikir, saya adalah manusia modern yang tidak perlu beradaptasi.

Congkak? Memang!

Begitu menengok blog pribadi, ternyata saya belumlah sepenuhnya menjadi manusia bermindset digital, sebab halaman blog saya begitu lama kosong lantaran saya hanya mau menulis blog jika membuka laptop. Padahal, saat buka laptop, kalau gak kerja ya belajar, gak tersentuh pula blognya.

Digitalnya saya itu nanggung, memang. Di facebook, saya menulis hampir tidak pernah pendek. Bahkan bisa lebih panjang dari postingan blog, dan semua saya tulis dengan dua ibu jari lewat smartphone saya. Sedangkan di blog tidak saya lakukan.

Di sisi lain, saya merasa jiwa saya agak kering jika terlalu lama tidak menulis, sebab menulis bagi saya adalah kegiatan batin yang menyenangkan.

Di platform social media, saya tidak bisa menulis setiap hari karena ruang di sana terlalu terbuka untuk akses publik dan terlalu sensitif. Alasan kedua itu yang sepertinya paling membuat saya harus tahan diri, tulisan yang mau dipublish di sana harus benar-benar saya seleksi.

Kalau di sini beda, orang yang mampir pada umumnya adalah yang memang niat membaca tulisan saya, jika pun ada hal yang kurang disetujui, diskusi dan masukannya lebih enak. Pada dasarnya, saya lebih suka menulis di sini.

Untuk itulah, saya akan menulis blog dari HP saja, dengan dua jempol saya yang aduhai ini.

Masih ada yang baca, kan? Hahaha…

Security Check Bandara Yang Menggelikan

Baru saja terjadi ketegangan antara saya dan pikiran bingung saya serta petugas saat penggeledahan dalam tanda kutip setelah melewati mesin X-Ray Bandara Soekarno – Hatta.

Laptop sudah saya keluarkan, sabuk tak lagi melekat di pinggang, ponsel di tas, jam tangan sudah dilepas, saya yakin semua pemicu bunyi wiung wiung tidak ada lagi. Seharusnya aman.

Begitu kaki sampai kepala saya berdiri tegak di screening gate machine, bunyi wiung wiung pun mengundang mata melototnya petugas. Seorang petugas langsung menginstruksikan saya untuk masuk ke mesin personnel screening (quickly screens personnel) dengan kecanggihan Automatic Detection Target-nya. Santai saja saya masuk di situ, disuruh angkat tangan saya lakukan, disuruh geser kaki ke titik tapak saya lakukan dengan efek goyang pinggul yang tentunya gak diminta, dan…mesin tersebut mendeteksi adanya metal di area pantat saya. Wuing wuing tak terhindarkan lagi.

Petugas langsung bergegas memutar badan saya dan menjangkau bagian belakang tubuh saya, lalu kaget nanggung karena tidak menemukan apa-apa. Saya bilang memang tidak membawa apa-apa, petugasnya menyahut: paling ada metal bawaan celana di sekitar kantung. Oh, saya bilang kalau anggapan itu gak benar. Saya paling tahu bentuk rupa dan seluk beluk celana yang saya pakai. Saya sampaikan tak ada apa-apa. Petugas kembali merogoh kantung celana saya dan tidak menemukan apa-apa lagi. Dia percaya betul sama mesin keamanannya, tak mungkin salah bekerja. Saya juga percaya betul sama celana dan tubuh saya. Gak mungkin anus saya seketika menjadi besi.

Akhirnya saya raba sendiri bagian belakang tubuh saya, dan saya menemukan sebiji isi staples menempel di tali celana bagian belakang–yang adalah penanda laundry hotel. Saya dan petugas saling tatap-tatapan sambil menertawai.

Sungguh pagi yang sabtu!

Kenapa Menjadi Kaya Itu Penting

Kenapa harus Kaya?

Kenapa tidak?

Sesuatu yang sangat menggairahkan saya untuk menjadi kaya itu adalah hasrat belajar yang tinggi dan kemampuan berbagi tak berbatas. Semakin bertambah usia, kebutuhan belajar semakin tinggi. Semakin matang sang diri, kebutuhan untuk berbagi semakin besar. Semakin menua, kebutuhan menjadi bermanfaat semakin tak terkendali. Untuk menjadi orang yang memenuhi paling tidak tiga kebutuhan besar tersebut, tentu butuh cara khusus melipatgandakan waktu kehidupan, salah satunya dengan menjadi kaya.

Begini…

Pergi ke sana ke mari yang hampir setiap hari dilakukan, cukup menguras banyak sekali waktu untuk menyetir. Belum lagi waktu tunggu yang tidak sedikit. Belum lagi macet dan hal-hal penyita waktu lainnya. Dengan menjadi kaya, saya bisa membayangkannya dengan sangat jelas, menyetir cukup dilakukan oleh Bapak sopir pribadi, saya tinggal duduk manis di samping atau di belakang melakukan hal yang lebih penting: membaca buku, update majalah bisnis, menelepon orang tua dan kerabat sahabat lebih sering, membantu mengurus persoalan bisnis dan orang lain secara digital, membuat konsep karya-karya besar, memantau perkembangan pasar modal, dan lain sebagainya.

Menyetir memang sebuah kesenangan, tetapi kalau menjadi suatu rutinitas yang karenanya waktu kita jadi sempit, sebaiknya oleh sopir saja. Kalau mau memenuhi kesenangan lewat menyetir, sesekali kalau lagi pengin rehat dari konsep paragraf selanjutnya. Atau sekalian main di sirkuit off road ataupun on road proffesional. Atau paling tidak lewat kegiatan touring keluarga atau touring relasi.

Kalau sekadar kaya dalam konteks punya banyak harta, punya sopir pribadi hanya untuk manja-manjaan atau malas-malasan, saya pikir inilah sedikit kekeliruan yang membuat banyak orang memandang sinis situasi kekayaan, lantas tidak sedikit yang antipati. Baik antipati terhadap orang kaya, maupun antipati terhadap menjadi kaya itu sendiri. Jadilah kaya untuk kemudian menjadi manfaat besar bagi kehidupan.

Dengan kaya juga, hal-hal remeh temeh lain yang menyita waktu dengan hasil manfaat kecil, bisa diganti dengan membayar orang untuk melakukannya, kemudian waktunya kita pakai untuk melakukan hal lebih penting yang manfaatnya besar. Salah satunya dengan terus membuat tulisan inspiratif, yang menggungah selera jiwa sebanyak mungkin umat manusia.

Bahkan yang ada di benak saya, nantinya saya memiliki fotografer sekaligus videografer pribadi dan editor pribadi. Mereka akan sangat sering ke mana-mana bersama saya. Tidak hanya memotret diri dan kegiatan saya, melainkan memotret apa saja konsep yang saya inginkan. Saya terima jadi, tinggal pakai dan posting. Saya tinggal ngomong, baik bicara depan kamera atau biacarain konsep, sudah ada tim yang menggarap hingga jadi. Modal saya yang besar, dan yang bisa saya lakukan dengan maksimal adalah berkata-kata. Jadi, kalau saya mau update IG, foto sudah siap disajikan oleh tim sendiri, saya tinggal meracik caption yang indah dan fantastis. Kalau soal tulis menulis, sampai detik ini, adalah sesuatu yang bagi saya tidak bisa tergantikan. Karena tulisan bagi saya, adalah ide dan pemikiran dan gaya yang di dalamnya saya punya energi besar untuk membuat tulisan menjadi hidup. Bukan dalam rangka berbangga diri berlebihan, melainkan ini tentang area atau hal yang dapat saya lakukan sangat maksimal, dibandingkan kemampuan lain saya yang minimal. Selain menulis, saya juga punya kemampuan yang maksimal dalam berkomunikasi dan berbicara. Keduanya adalah tentang berkata-kata.

Dan yang paling menyenangkan dalam benak saya saat ini, ketika menvisualisasikan itu semua, adalah betapa banyaknya orang yang bekerja bersama saya, mengambil manfaat dari pemikiran dan ide saya, menjadi orang yang tumbuh kembang karena ajakan saya untuk besar dan sukses bersama. Terlebih keluarga, tentu akan memetik manfaat yang sangat besar dari ini semua.

Yang terpenting adalah, kita senantiasa menjadi orang yang pandai bersyukur, dan tidak lupa diri.

gambar diambil dari: sini

Merayakan Hidup Dengan Cara Bersyukur

Hal paling nomor satu yang harus harus harus kita syukuri karena kita diberi kesempatan hidup adalah memiliki hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Dengan itu, kita bisa menghirup udara memasuki lubang hidung, melewati kerongkongan atas atau naro pharinx, kemudian melewati tenggorokan, glotis, trakea, lalu masuk ke bronchus dan bronchiolus. Ujungnya, udara berakhir pada alveolus. Manusia yang penuh dengan istilah keren menyebut menarik napas sebagai inspirasi, dan mengeluarkan napas sebagai ekspirasi.

Saat inspirasi, otot diafragma berkonstraksi alias melengkung menjadi lurus. Kemudian rongga dada terangkat dan membesar, atas otot antar tulang rusuk yang berkontraksi. Karena rongga dada mengembang, maka tekanan udara di dalam lebih kecil dari tekanan udara luar alias mengecil, sehingga udara luar bisa masuk ke dalam paru-paru.

Ketika ekspirasi, kita mengeluarkan udara, otot diafragma berelaksasi alias lurus menjadi lengkung. Rongga dada mengecil atas otot antar tulang yang berelaksasi, maka tekanan udara di dalam lebih besar dari tekanan udara luar alias membesar, akibatnya udara keluar dari dalam.

Begitulah proses kita menghirup gas oksigen (O2) dan mengeluarkan gas karbon dioksida (Co2), yang mana oksigen tersebut kita gunakan dalam proses menguraikan zat glukosa sehingga pada akhirnya kita mendapatkan energi. Proses kompleks namun terasa simpel itu, kita lakukan setiap detik dan detaknya.

Sederhananya: BERSYUKUR KITA MASIH BERNAPAS!

Segala sesuatu yang Tuhan anugerahkan ke kita itu luar biasa, tidak sederhana. Kita hanya perlu mengaguminya dengan cara paling sederhana, yaitu bersyukur.

Mengingat untuk meningat (eling).
Mengingat untuk bersyukur.

MATA
Saat kita melihat laut, pantai, gunung, sawah, pelangi, bangunan megah, kendaraan mewah, manusia rupawan lain dan keindahan lainnya, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk melihat.

Sehingga, saat yang kita lihat hanya sudut kamar atau kekeringan belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

TELINGA
Setiap kali telinga kita menangkap suara lantunan merdu ayat-ayat indah, lagu-lagu, kicauan burung, deru angin, ilmu verbal, ungkapan-ungkapan bijak, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan mendengar.

Sehingga, saat yang kita dengar hanyalah kritik atau nasihat pahit belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

LIDAH
Berbagai jenis makanan dan minuman enak yang tadinya menggoda mata dan hidung, lantas menggugah selera, masuk ke mulut, dikecap oleh lidah, didalami makna rasanya oleh pangkal lidah, dan mak nyus! Dan, yang utama kita syukuri adalah anugerah kemampuan untuk merasa (mengecap rasa).

Sehingga, saat yang kita rasa hanyalah pahit, asin, atau bahkan hambar belaka, kita masih tetap bisa bersyukur.

Begitu juga dengan indera peraba, dan segala bentuk kenimatan lainnya.

Apalah arti pemandangan indah tanpa mampu kita melihatnya.
Apalah arti suara merdu jika kita tak mampu mendengarnya.
Apalah arti kuliner enak selama kita tidak sanggup mengecap rasanya.
Dan, apalah arti kita tanpa-Nya?

Pemandangan indah, suara merdu, dan makanan minuman enak memang pantas kita syukuri. Tetapi itu semua hanyalah representasi dari betapa mahalnya sesuatu anugerah yang melekat di dalam diri kita. Iya. Dunia di luar diri adalah representasi dari betapa besarnya dunia di dalam diri kita, Mahluk Tuhan semata.

CINTA
Setiap rangkaian kebahagiaan yang kita alami karena memiliki keluarga dan hubungan baik, yang utama harus kita syukuri adalah anugerah cinta.

Karena anugerah indah ini, kita bisa mendapatkan cinta melalui proses kita memberi cinta terlebih dahulu. Ingat, memberi baru menerima.

Sehingga, dengan atau tanpa memiliki keluarga, kita tetap bisa bersyukur.

Dengan modal cinta, kita bisa memanen kebahagiaan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa serta apa saja.

Selamat menjalani hidup penuh syukur, penuh cinta, dan penuh persatuan yang mendamaikan.

Tips Kemudahan Buang Air Besar di Pesawat

INI ADALAH TIPS PALING SPEKTAKULER SEPANJANG SEJARAH KEHIDUPAN MANUSIA

Ketika perutmu mulas dan ampas tak beraroma baik itu berasa di ujung penyemburan, bagaimana perasaanmu ketika itu terjadi di pesawat?

Mari berbagi cerita dan berbagi tips di sini.

Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran untuk buang air besar di pesawat, bukan karena tampak ribet, tetapi memang tidak terpikirkan. Semacam menganggap toilet pesawat itu hanya layak untuk buang air kecil. Sebulan terakhir, entah mengapa terpikirkan: “kalau kebelet di pesawat, gimana beol dan ceboknya ya?” tanya saya dalam hati. “Gak usah dipikir keleus!” jawab saya dalam hati.

Berawal dari pikiran yang entah dari mana itu, kurang dari sebulan kemudian kejadianlah. Perut saya mulas tak karuan. Kesungkanan untuk bertanya pun saya tepis. “Kalau mau BAB, cara ngebersihinnya selain pakai tissue gimana ya?” tanya saya ke pramugari. “Pakai ini saja”, jawab pramugari sambil menyodorkan gelas sekali pakai.

Awalnya sempat bingung, ngeuh-nya pas dibilangin manfaatin wastafel. Gelas tadi adalah pengganti gayung.

Singkat cerita, lega lah seorang saya yang berhasil buang air besar di bilik toilet pesawat yang amat sempit itu berkat 5 tips paling spektakuler di bawah ini:
1. Pelorotin celana sambil tersenyum
2. Ngeden tanpa ragu, tetap jaga pose
3. Kalau ada tanda-tanda akan ada bunyi BROT menggelegar, pura-pura batuk saja atau tekan flush supaya gak tengsin sama pramugari yang lagi ngobrol di belakang
4. Sambil ngeden, tekan keran air dengan posisi saluran wastafel tertutup, sampai penuh
5. Arahkan gelas yang terisi air ke ***** secara perlahan, jangan ke mulut. Beres deh

Kekhawatiran terhadap kekuatan sedotan angin kloset pun terjawab sudah, ternyata galak di suaranya saja. Kan repot kalau pas diflush, anus kita kesedot keluar, semacam ambeyen level wahid. Ternyata tidak demikian.

Suara sedotan angin kloset itu tak ubahnya preman pasar yang takut sama jarum suntik. Tampak sangar, tetapi aslinya lemah!

Sebagai bukti valid bahwa kekuatan angin kloset itu tidak ada apa-apanya, saya cek dengan teliti, bahwa tidak ada sehelai bulu pun yang mampu ia rontokkan. Bersih. Tidak ada jejak. 😁

Cita-Citaku di Hari Senin

Hari senin aku mencatat cita-citaku di buku tulis berwarna cokelat lembut dan hijau pucuk. Sengaja aku menulis ulang supaya cita-cita yang aku catat di hari senin itu bisa menggandakan dirinya pada hari selasa, rabu, kamis, jumat, dan sabtu. Hari minggu tidak perlu. Bercita-cita pun butuh liburan, seperti pendidikan dan pekerjaan.

Cita-citaku adalah memiliki perusahaan sendiri, yang memperkerjakan ribuan orang-orang baik. Bajingan juga boleh, tetapi yang sudah belajar menjadi baik. Sebenarnya ini adalah kembangan dari cita-cita terdahuluku. Dulu, aku sangat berkeinginan bekerja mengelola ribuan orang, atau ratusan orang tak apalah, mengelola dalam artian sejumlah ratus dan ribu yang kusebut tersebut adalah di bawah kendaliku langsung.

Paling tidak dengan cita-cita seperti itu aku bisa berbuat baik semaksimal mungkin terhadap sebanyak mungkin orang dengan jumlah yang kusebutkan tadi. Bukan mau sok-sokan punya banyak anak buah. Urgh. Aku tidak suka istilah anak buah, seringkali bikin orang tertentu gila hormat dan gila jabatan. Aku lebih suka menyebutnya anggota atau partner, rasanya lebih nyaman di hati dan senyuman.

Cita-cita awal belum kuraih. Aku bekerja tidak memiliki anggota sebanyak itu. Hanya lima orang. Karena tidak kesampaian bekerja mengelola langsung ratusan hingga ribuan orang, jadi cita-citanya kuubah saja dengan memiliki perusahaan sendiri. 

Kalau kamu punya cita-cita yang belum kesampaian, coba saja cara seperti ini. Bukan menurunkan tingkat dari cita-cita itu sendiri, melainkan justru mengubahnya menjadi lebih besar lebih hebat lebih fantastis lebih spektakuler lebih wow lebih aduhai. Tidak perlu terpengaruh dengan bisikan pesimis orang-orang yang bukan isi hatimu sendiri.

Seperti hal lalu yang pernah kualami–meski bukan soal cita-cita–sewaktu kuliah, di mana beberapa kawan menertawaiku yang sedang berbahasa jawa. Cara bicaramu sungguh aneh, katanya. Sebaiknya kau berbahasa Indonesia saja, katanya lagi dan lagi. Sindiran seperti itu seringkali kudengar, tidak sekadar sekali dua. Memang dasarnya aku, bukannya gentar, bukannya mengikuti saran mereka, aku justru semakin bicara dan terus bicara tanpa kenal malu. Mau benar mau salah, peduli setan saja lah, pikirku. Justru karena terdengar aneh itu lah aku harus terus belajar dan berbicara sampai tidak terdengar aneh. Setidaknya tidak aneh-aneh amat.

Sama halnya juga dengan seseorang yang membuat karya video, awalnya tidak begitu dipandang karena karya-nya bisa banget. Orang sukses, harus semakin menempa dirinya supaya lebih pantas untuk dianggap ada. Bukan sebaliknya, meninggalkan usaha dan karya hanya karena sindiran tidak penting itu. Sindiran itu penting sebenarnya jika kita melihatnya sebagai pemicu untuk menjadi lebih baik, tetapi tidak penting jika sindiran itu membuat kita kepikiran dan jadi orang pesimistis.

Kamu kamu yang sudah membaca hingga di barisan ini, tanggung dong kalau sudah sejauh ini tanpa berucap amin? 

Semoga segera datang saatnya saya memiliki perusahaan sendiri. Aaa? Aaamiiinnnn….

Bukan Tentang Kopiah Jum’at

Ini soal Respect in harmony!

Tiada arti Visi-Misi besar, tanpa diikuti semangat bersama-sama membangun organisasi yang tak kalah besar.

Tiada arti membangun mimpi organisasi yang besar, jika gerak dan langkah tim tak seirama.

Tiada arti jerih payah memperindah peradaban organisasi, apabila tidak dibarengi dengan senyum tawa yang saling menghangatkan.

Kunci dari segala kesuksesan sebuah organisasi adalah RESPECT. Mau pakai metode gerakan perubahan apapun, tak akan pernah berhasil secara maksimal kalau satu dan lainnya tak saling Respect.

Tugas paling besar dalam membangun organisasi, membangun tim, bahkan membangun usaha dan perusahaan adalah memastikan budaya respect each other terjadi di setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Respect itu harus ditanam, lalu ditumbuhkan, hingga berbuah, dan tumbuh kembang, lagi dan lagi. Sebab dari situlah lahirnya kepercayaan, motivasi, dan kekuatan.

Jaga energi
Jaga semangat
Jaga kebersamaan

Just respect each other.

Surga di Telapak Kaki Ibu dan Bapak

Katanya, anak yang baik adalah anak yang mengangkat (derajat) orang tuanya. Mari kita menggendong orang tua! 😁

Menurut saya surga itu ada di Ibu dan Bapak. Kita tidak akan memiliki seorang Ibu jika Bapak tidak berjuang merayu Ibu hingga menikahlah keduanya. Kita tidak akan memiliki Ibu jika darah daging Bapak tidak diturunkannya. Ibu itu surga, Bapak itu jalan dan pintu menuju surga. Mana bisa kita bisa tiba di surga jika tidak ada jalan dan pintunya?

Sebelum saya lanjut menulis, daripada para pembaca yang budiman berkutat dengan pertanyaannya, sebaiknya saya jawab dulu pertanyaan para pembaca yang tidak terucap itu. Kok mau sih ibu-bapaknya difoto seperti itu? Kok mau-maunya sih digendong begitu? Kok kuat sih?

Jawabannya sederhananya hanya 2:
1. Untuk meyakinkan orang tua agar mau digendong dan mau difoto sambil digendong dengan hati riang gembira, itu butuh skill komunikasi yang diasah sepanjang hidup dengan cinta dan kasih sayang
2. Menggendong orang tua seberat itu tanpa merasa berat, juga butuh skill, dan hanya mampu dilakukan dengan kekuatan cinta dan kasih sayang.

Ahay!

Setelah mengikuti agenda ‘Indonesia OSH Leader Summit 2018″ di Hotel Anvaya Bali pada tanggal 24-25 Oktober kemarin, Jum’at 26 Oktober saya usahakan ke Bima dua hari, demi bertemu memeluk Ibu sama Bapak. Kangen euy!

Seperti kebiasaan saya yang sudah-sudah, pulang selalu menjadi kejutan. Saya tidak memberitahu orang tua, tiba-tiba nongol saja di rumah. Bahkan waktu mudik lebaran dengan anak istri pun, kami tiba-tiba muncul di depan rumah. Apa orang tuanya gak teriak mau copot jantung? Hahaha.

Ibu kan ada kios. Pulang kemarin saya datang berpura-pura jadi pembeli, jaket dan helm dan wajah yang agak ditutup tak saya lepas. Begitu beliau nanya mau beli apa, saya buka helmnya, dan… Eaaaaaa Ibu menangis. Lalu saya diamkan dengan pelukan dan kecupan. Muah!

Tak lama saya ke tempat Bapak. Bapak sedang duduk di motor, menunggu seseorang. Dengan gaya rem mendadak tapi gak sampai ban berdecit, saya berhenti persis di samping bapak sambil berteriak, “Assalamualaikuum…” Bapak kaget dan hampir terjatuh dari duduknya. Lalu beliau terus bicara kok gak dikasihtahu, kok diam-diam bae, kok gitu kok gini, diulang-ulang. Bapak agak susah diam meski sudah dipeluk. Mungkin karena gak dikecup muah seperti ibu. Hahaha.

Satu malam tidur di tempat Ibu.
Satu malam tidur di tempat Bapak.
Di tempat Ibu dulu, baru di tempat Bapak.
Semoga adil adanya.

Alhamdulillah, diberi rezeki dan kesempatan untuk menengok orang tua. Dan hari ini harus mengucapkan sampai jumpa kembali, melanjutkan perputaran dunia seperti biasanya.

Mari menyayangi orang tua mumpung beliau-beliau hidup, siapa dan apapun beliau-beliau adanya, mumpung kita masih diberi kesempatan hidup, sebab hidup di dunia tiada terjadi dua kali.