Duka Cita Perusahaan Smelter

Foto: dari sini

Setiap melihat gambar slag dump, tempat di mana ampas bijih mineral ditumpah-tumpah-ruah-kan, pikiran saya selalu melayang ke Sorowako sepuluh tahun silam. Di sana, pertama kali saya melihat langsung pabrik smelter. Di sana, tempat pertama kali saya melihat lahar yang begitu panas begitu dekat begitu berapi-api. Di sana, tempat pertama kali saya bisa membeli rambutan sepohon buah rimbun hanya cukup di bayar dengan uang seratus ribu. Di sana, tempat pertama kali saya membawa uang kurang dari seratus ribu ditukar dengan durian sekarung kecil. Tidak ada hubungan antara ampas bijih dengan buah, jadi tidak usah dipikirkan. Lanjut membawa saja, ya? Continue reading

Rezeki Yang Tak Tertukar

“Beb, motor kita gak ada loh,” kata saya ke istri–Ifat–sesaat setelah kami membalikkan badan usai membeli tolak angin di sebuah apotek.

Kami duduk dan menaruh helm depan apotek, membicarakan kesalahan apa saja yang baru-baru ini kami perbuat. Apakah ada orang yang sengaja dan tidak sengaja kita sakiti? Kami sama-sama menggelengkan kepala setelah berusaha mengingat untuk mengoreksi diri. Motor hanya berjarak sedikit meter, stang motor terkunci, transaksi di apotek hanya sedikit menit. Agak janggal memang kalau motor itu hilang. Continue reading

The Power of Keberuntungan

“Mohon maaf seat pesawatnya penuh, Pak,” kata petugas di counter check in Garuda sedikit gugup. “Saya antar ke kantor customer service ya, Pak, untuk bantu menjelaskan permasalahannya.” Saya melempar senyum, berjalan gegas namun tenang. Tak ingin menjadi bagian dari masalah, saya menunjukan sikap biasa yang tak sedikitpun menggambarkan kekesalan. “Tuhan tahu apa yang terbaik buat hambaNya,” kata saya dalam hati. Continue reading

Mengenal Adaro Lebih Dekat

Gema suara petugas bandara begitu merdu meski tak saya kenali, menginstruksikan kepada para penumpang yang akan menuju Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin Kalimantan Selatan untuk segera menaiki pesawat melalui pintu 21. Bagian kecil kepala saya berkata, kok semacam disuruh masuk pintu theater bioskop ya? Waktu menunjukan pukul 19:30 WIB, mata saya sudah kantuk tak tertahankan. Itu pula yang membuat saya kegirangan dengan suara merdu tadi, serasa akan menuju kasur menikmati tidur pelepas lelah setelah seharian meeting serius di kantor Bintaro tanpa makan siang sebab sedang bulan Ramadan. Buka puasa yang buru-buru di Bandara Soekarno-Hatta pun menambah porsi ngantuk karena sedikit menyunyah banyak menelan dengan jumlah makanan yang tak sedikit. Begitu menempelkan pantat di bangku pesawat, saya langsung menyerahkan diri pada putri tidur dan pulas begitu saja. Mimpi demi mimpi saling tumpang tindih berebut tayang di alam tak nyata seorang saya, sampai-sampai saya bingung–sebenarnya, saya sedang bermimpi apa dan di mana? Setelah kelelahan menghadapi kebingungan di dalam mimpi, saya terbangun, mendapati pesawat sudah berhenti dan ruang kabin begitu terang dan nyata. “Ya Allah sudah nyampe di Banjar, cepat banget ya kalau tidur pulas begini,”  kata saya kepada punggung bangku depan. Saya mengucek mata, sedikit banyak bingung melihat semua penumpang lain tak ada yang beranjak dari tempat duduknya. Saya mengecek jam, ya, sudah waktu tibanya saya di Banjarmasin. Apakah orang-orang begitu lelah menjalani puasa hari ke dua puluhnya sehingga pada enggan membangkitkan diri? Ada yang aneh. Selidik punya selidik, ternyata pesawatnya masih nyangkut di Bandara Soekarno-Hatta, karena cuaca sedang tidak baik dan jalur penerbangan hanya dibuka satu, sehingga sejumlah banyak pesawat harus mengantri lama. Continue reading

Teman Begadang Baru: Campuran Kopi Hijau

Saya punya masalah yang membuat hati penasaran soal kopi, yakni dampak bau kencingnya. Apakah ini terjadi pada semua orang, atau pada sebagian orang saja, atau hanya saya seorang—kalau minum kopi pasti habis itu bau kencing serupa kopi? Saya menyadari hal ini sekira dua tahun terakhir, dan baru kali ini saya menanyakannya. Seingat saya, sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi demikian. Entah karena dulu hidungnya saya mengalami sensor error, atau saya yang kurang peka terhadap bau air seni? Kalau makan durian sih iya, dari dulu pasti bau kencing saya serupa durian. Tetapi kopi ini baru terjadi. Makan jengkol, pete dan sekawanannya juga bikin kencing saya bau baru-baru ini. Dulu gak pernah, karena saya baru mau makan jengkol dan pete di tahun 2017. Terkadang pertanyaan yang muncul di kepala agak banyak unsur khawatirnya: Normal gak yah bau kencing seperti kopi begini? Jangan-jangan ada sistem metabolisme saya yang bermasalah? Jangan-jangan segumpal tuyul masuk tidak sengaja lewat mulut—menelusuri kerongkongan—hingga lolos ke dalam perut saya, dan mencuri salah satu bagian penting dalam tubuh saya yang menyebabkan bau makanan dan minuman yang masuk akan sama dengan bau keluarnya. Semoga ini hanya kekhawatiran berlebihan saya saja, tolong dibantu jawab di kolom komentar untuk membantu menenangkan diri saya. Continue reading

Stop Ekspor Mineral Mentah Indonesia

Gambar dari sini

Coba kita cermati benar-benar gambar di atas ini, tidak usah ditelaah dengan analisa pikiran logis yang berat, nikmati saja kemilau emasnya. Bayangkan tumpukan emas sedemikian megah tersebut tersusun rapi di berbagai sudut pulau negeri ini. Di saat kita sedang berdiri di depan gudang kemegahan emas berdinding kaca yang semakin menyilaukan kebanggaan mata, datang orang asing dari berbagai negara bertanya, “apakah itu emas betulan, saudaraku?” Meski ini asumsi, siapapun kamu yang membayangkan hal itu, pasti akan merasa sangat bangga menjawab, “Ya. Itu emas sungguhan. Emas murni dari negaraku, dari pulauku, dari tanah kelahiranku.” Lalu orang asing tersebut terus memuja-muji, turut bangga hanya dengan melihat saja, bangga hanya dengan tahu bahwa Indonesia ini benar-benar kaya tanpa kata tapi. Continue reading

Modus Penipuan E-Cash Money

Belakangan modus penipuan semakin berkembang. Biasanya kerap kita dengar penjual online abal-abal yang menipu calon pembelinya. Sekarang justru terbalik, penipu yang berpura-pura jadi pembeli dan berniat menipu penjualnya. Hari ini saya hampir jadi korban modus ini, setelah saya memasang iklan etalase tidak terpakai di OLX.

Begini ceritanya… Continue reading

San’s Kekpisang Balikpapan

Namanya Nizar, usia tiga tahunan, sudah pandai main badminton semenjak usianya dua setengah tahun dan juga sudah pandai menginterogasi Abinya ketika Sang Abi hendak keluar rumah sendirian. Menggemaskan sekali. Energi anak kecil itu selalu berhasil memancarkan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitar, terutama keluarganya. Kepandaian Nizar di lapangan badminton adalah nurun Abinya yang dulu seorang atlet–namun belakangan lebih memilih berkeringat di dapur ketimbang di lapangan hijau tak berumput tersebut. Continue reading